TERNATE – Mahalnya ongkos transportasi laut di Maluku Utara dinilai menjadi pemicu utama tingginya biaya hidup dan inflasi kepulauan.
Akademisi Universitas Khairun, Dr. Muhammad Kamal, M.Si., menyebutkan penurunan drastis jumlah pelayaran dan lemahnya tata kelola angkutan laut telah menciptakan lingkaran biaya tinggi yang dibebankan langsung ke rakyat.
Data Dinas Perhubungan Maluku Utara yang dikutipnya menunjukkan, trip keberangkatan transportasi laut anjlok 36,7 persen, dari 41.093 trip pada 2024 menjadi hanya 26.018 trip pada 2025. Padahal di saat yang sama, arus penumpang di Pelabuhan Ahmad Yani dan Bastiong saja mencapai 1.683.463 orang.
“Ketika frekuensi layanan melemah, gangguan ekonomi langsung terasa di banyak pulau. Petani, nelayan, pedagang, dan rumah tangga akhirnya membayar ongkos ketidakpastian melalui harga harian,” kata Kamal, Kamis (2/10/2026).









Komentar