oleh

Jika Punya Hati, Gubernur Sherly Tjoanda Tidak Mungkin Setega Ini Kepada Korban Speedboat Bela 72

-HEADLINE-1038 Dilihat

 

TERNATE, Malut – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda tengah menuai sorotan tajam publik.Sikapnya ke korban kebakaran speedboat dan keluarganya telah menimbulkan persepsi dari para korban dan keluarga mereka serta publik  yang negatif sebagai pemimpin dan pribadi yang tidak empatik dan tega.

Sebutan “Perempuan Tega” dan “Pemimpin Tanpa Nurani” kini melekat di bibir para korban dan masyarakat.

Betapa tidak, mereka mengalami nasib tragis karena menjadi korban luka dan ditinggal matu suami sebagai tumpuan hidup karena menjalankan misi kepentingan politik suami Sherly Tjoanda dan peristiwa itu pula menghantarkan Sherly sebagai Gubernur Maluku Utara namun seolah dihempaskan begitu saja tanpa tanggunjawab yang manusiawi dari Sherly Tjoanda.

Baca Juga  27 Tahun Maluku Utara, Ketua FPPMU Soroti Ketimpangan dan Kemiskinan Melabar diatas Kekayaan

Kami Diajak Kampanye, Bukan Rekreasi

Salah satu korban luka yang enggan disebutkan namanya dengan suara bergetar menuturkan:

“Kami ini korban luka dan ada yang keluarga korban yang suaminya mati itu, kami diajak oleh Benny Laos dan Ibu Sherly untuk kegiatan kampanye politik di Sula dan Taliabu. Kami naik itu karena perintah, karena diajak. Kami tumpuan hidup keluarga. Bukan jalan-jalan.”

Baca Juga  IUP PT KARYA WIJAYA DI PULAU GEBE DISOROT: DESAK DICABUT DAN PEMEGANG SAHAM DIUSUT

Ia menambahkan, setelah kapal meledak dan 6 orang tewas termasuk Benny Laos, mereka berharap ada uluran tangan manusiawi.

“Katanya mau tanggung semua biaya pengobatan, anak sekolah dikasih beasiswa sampai kuliah, mau kasih rumah, mau kasih modal usaha. Kami disuruh tanda tangan memaafkan nakhoda agar RJ selesai. Kami maafkan karena percaya sama Ibu Sherly. Tapi setelah RJ selesai, janji itu hilang. Kami dibiarkan merana.”

Baca Juga  PENGAMAT HUKUM UMMU Ternate: Kebakaran Speedboat Bela 72 Bukan Musibah Biasa, Tapi Kelalaian Sistemik

“Tak menyangka Ibu Gubernur setega ini kepada kami yang menjadi korban karena menjalankan misi kepentingan politiknya”ujar salah satu korban lirih.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *