TERNATE, Malut – Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda tengah menuai sorotan tajam publik.Sikapnya ke korban kebakaran speedboat dan keluarganya telah menimbulkan persepsi dari para korban dan keluarga mereka serta publik yang negatif sebagai pemimpin dan pribadi yang tidak empatik dan tega.
Sebutan “Perempuan Tega” dan “Pemimpin Tanpa Nurani” kini melekat di bibir para korban dan masyarakat.
Betapa tidak, mereka mengalami nasib tragis karena menjadi korban luka dan ditinggal matu suami sebagai tumpuan hidup karena menjalankan misi kepentingan politik suami Sherly Tjoanda dan peristiwa itu pula menghantarkan Sherly sebagai Gubernur Maluku Utara namun seolah dihempaskan begitu saja tanpa tanggunjawab yang manusiawi dari Sherly Tjoanda.
Kami Diajak Kampanye, Bukan Rekreasi
Salah satu korban luka yang enggan disebutkan namanya dengan suara bergetar menuturkan:
“Kami ini korban luka dan ada yang keluarga korban yang suaminya mati itu, kami diajak oleh Benny Laos dan Ibu Sherly untuk kegiatan kampanye politik di Sula dan Taliabu. Kami naik itu karena perintah, karena diajak. Kami tumpuan hidup keluarga. Bukan jalan-jalan.”
Ia menambahkan, setelah kapal meledak dan 6 orang tewas termasuk Benny Laos, mereka berharap ada uluran tangan manusiawi.
“Katanya mau tanggung semua biaya pengobatan, anak sekolah dikasih beasiswa sampai kuliah, mau kasih rumah, mau kasih modal usaha. Kami disuruh tanda tangan memaafkan nakhoda agar RJ selesai. Kami maafkan karena percaya sama Ibu Sherly. Tapi setelah RJ selesai, janji itu hilang. Kami dibiarkan merana.”
“Tak menyangka Ibu Gubernur setega ini kepada kami yang menjadi korban karena menjalankan misi kepentingan politiknya”ujar salah satu korban lirih.







Komentar