oleh

JEJAK HASRAT DI ZAMAN MODERN: KETIKA KONSUMERISME MENJAHIT IDENTITAS YANG DIPERSONALISASI

Banyak anak muda maupun masyarakat luas saat ini mengikuti arus kehidupan yang tampak tenang, tetapi sebenarnya penuh kesibukan dan kesenangan.

Hal itu tidak lagi didorong oleh kebutuhan yang nyata, melainkan oleh keinginan yang terus bertambah dan tidak pernah merasa puas.

Seperti anak muda kini yang berjalan di tengah gemerlap yang sunyi, mengejar hal-hal yang tampak indah namun tidak selalu dibutuhkan, karena mereka ingin dipuji. Hal ini terlihat dari gaya hidup dan penampilan, seperti membeli barang bermerek atau mengikuti tren fashion tertentu hanya agar terlihat keren di mata orang lain.

Baca Juga  *Fenomena "Operasi Kodok" Yang Kini Semakin Gencar Digulirkan Melalui Media Sosial Berbasis Internet*

Selain itu ada yang membeli kemewahan demi citra diri, bukan kebutuhan semata karena ingin mengejar popularitas dan memperlihatkan di media sosial.

Berupa barang yang harganya tinggi tidak termasuk kebutuhan pokok, tetapi lebih digunakan untuk menunjukkan gaya hidup, status sosial, dan kepuasan pribadi.

Selain itu barang mewah juga memiliki makna simbolis sebagai tanda kesuksesan dan prestise seseorang.

Baca Juga  “Ela-Ela: Cahaya Iman dari Tanah Kesultanan”

Sebagian orang menjalani hidup di balik layar, berharap diakui melalui tanda suka dan komentar. Sementara itu, ada pula yang meniru arah hidup orang lain karena takut tidak dianggap.

***

Media sosial dapat dipahami sebagai panggung besar yang penuh cahaya dan daya tarik, tempat tren terus bergulir dan memengaruhi perilaku masyarakat.

Baca Juga  KIAMAT ILMU SOSIAL - Gugat Sunyi dan Menimbang Ulang Kematian Nalar

Di ruang ini, orang-orang tanpa sadar terdorong untuk mengikuti arus popularitas, seolah menari sesuai irama yang ditentukan oleh apa yang sedang viral.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *