oleh

MENJEMPUT PULANG JIWA KOTA -Membungkuk Hormat pada Sang Pendahulu

-Artikel/Opini-1148 Dilihat

Oleh: M.Guntur Alting

“Sebab pada akhirnya, setiap pengembara selalu butuh jalan pulang”
—
​SEORANG filosof pernah berbisik “Kota yang hebat bukan hanya yang tahu ke mana ia akan pergi, tapi kota yang tak pernah lupa siapa yang menemaninya saat melangkah pertama kali.”

​Di Ternate, kalimat itu kini mewujud dalam sebuah perjalanan panjang yang melintasi laut dan udara.

Baca Juga  Catatan di Stasiun Ngrombo - Grobogan - Jawa Tengah — KDM Lindungi Koruptor di Jawa Barat?

Di saat kota ini bersolek merayakan ulang tahunnya yang ke-27, ada sebuah narasi yang lebih kuat dari sekadar seremoni.

Pemerintah Kota Ternate memutuskan untuk menjemput pulang “sang nakhoda,” almarhum Haji Burhan Abdurahman, dari tanah Gowa menuju pelukan hangat bumi Ternate.

​Ini adalah sebuah kepulangan yang sarat dengan “getaran batin.”

​Bagi saya, yang pernah mencatat rekam jejak pembangunan dari perspektif manusia, langkah Walikota M.Tauhid Soleman ini adalah sebuah “puisi birokrasi” yang jarang kita temukan.

Baca Juga  Politik Anggaran: Menjembatani Ketimpangan Pusat dan Daerah.

Biasanya, di panggung politik, seorang pengganti sibuk menghapus jejak pendahulunya demi menegakkan tonggak baru.

Namun di Ternate, kita melihat pemandangan yang kontras: yang berkuasa hari ini justru membungkuk hormat, menjemput sosok yang dulu menanam fondasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *