Oleh: M.Guntur Alting
“Sebab pada akhirnya, setiap pengembara selalu butuh jalan pulang”
—
SEORANG filosof pernah berbisik “Kota yang hebat bukan hanya yang tahu ke mana ia akan pergi, tapi kota yang tak pernah lupa siapa yang menemaninya saat melangkah pertama kali.”
Di Ternate, kalimat itu kini mewujud dalam sebuah perjalanan panjang yang melintasi laut dan udara.
Di saat kota ini bersolek merayakan ulang tahunnya yang ke-27, ada sebuah narasi yang lebih kuat dari sekadar seremoni.
Pemerintah Kota Ternate memutuskan untuk menjemput pulang “sang nakhoda,” almarhum Haji Burhan Abdurahman, dari tanah Gowa menuju pelukan hangat bumi Ternate.
Ini adalah sebuah kepulangan yang sarat dengan “getaran batin.”
Bagi saya, yang pernah mencatat rekam jejak pembangunan dari perspektif manusia, langkah Walikota M.Tauhid Soleman ini adalah sebuah “puisi birokrasi” yang jarang kita temukan.
Biasanya, di panggung politik, seorang pengganti sibuk menghapus jejak pendahulunya demi menegakkan tonggak baru.
Namun di Ternate, kita melihat pemandangan yang kontras: yang berkuasa hari ini justru membungkuk hormat, menjemput sosok yang dulu menanam fondasi.













Komentar