Oleh: Syahrir Ibnu
Beberapa hari terakhir, ruang publik Indonesia kembali dipenuhi oleh gelombang aksi mahasiswa. Demonstrasi yang dipelopori Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di Jakarta tidak dapat dipahami semata sebagai respons terhadap isu kenaikan harga BBM atau kritik terhadap kebijakan pemerintah. Di balik poster yang dibentangkan, spanduk yang dikibarkan, dan orasi yang menggema di jalanan, tersimpan sebuah realitas sosial yang jauh lebih mendalam yaitu akumulasi kegelisahan publik yang perlahan menemukan saluran ekspresinya.
Jika dilihat dari perspektif sosiologi gerakan sosial, demonstrasi bukanlah titik awal sebuah persoalan, melainkan puncak dari proses sosial yang berlangsung dalam waktu lama. Aksi kolektif lahir ketika masyarakat mulai merasakan jurang yang semakin lebar antara harapan dan kenyataan. Rakyat berharap kehidupan ekonomi membaik, namun yang dihadapi justru kenaikan harga kebutuhan pokok. Mereka berharap kesempatan kerja semakin terbuka, tetapi ketidakpastian masa depan justru semakin terasa. Mereka menginginkan hukum menjadi instrumen keadilan, namun yang terlihat sering kali adalah ketimpangan dalam praktik dan penerapannya.
Pada mulanya, kegelisahan hadir sebagai pengalaman yang bersifat pribadi. Ia hidup dalam percakapan keluarga yang membahas kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat, dalam keluhan pedagang kecil yang kesulitan mempertahankan usahanya, dalam keresahan petani menghadapi mahalnya biaya produksi, atau dalam kecemasan nelayan yang bergantung pada bahan bakar untuk melaut. Di kalangan kelas menengah, kegelisahan itu muncul dalam bentuk kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi yang semakin tidak pasti.
Namun sejarah menunjukkan bahwa kegelisahan yang tersebar tidak selamanya tinggal sebagai keluhan individual. Ketika pengalaman-pengalaman tersebut bertemu dalam ruang sosial yang sama, memperoleh narasi bersama, dan menemukan aktor yang mampu mengartikulasikannya, maka lahirlah kesadaran kolektif. Pada titik itulah kegelisahan berubah menjadi gerakan.
Apa yang sedang berlangsung saat ini menunjukkan gejala tersebut…
Salah satu kesalahan dalam membaca aksi mahasiswa adalah menganggapnya sebagai persoalan yang terbatas pada lingkungan kampus atau hanya berlangsung di Jakarta. Pandangan semacam itu mengabaikan fakta bahwa isu yang diangkat mahasiswa sesungguhnya berakar pada pengalaman sosial yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Meningkatnya harga kebutuhan pokok, biaya transportasi yang terus bertambah, tekanan terhadap sektor-sektor produktif, serta menurunnya daya beli masyarakat bukan hanya dirasakan di pusat-pusat kota. Persoalan yang sama juga dirasakan oleh petani di Sulawesi, nelayan di Maluku Utara, buruh di Kalimantan, pedagang kecil di Jawa, hingga pekerja informal di berbagai daerah.
Karena itulah isu yang dibawa mahasiswa memiliki daya resonansi yang kuat. Mereka tidak sedang berbicara mengenai kepentingan kelompoknya sendiri, melainkan mengartikulasikan kegelisahan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Dalam teori mobilisasi sumber daya, sebuah gerakan akan memperoleh dukungan luas apabila mampu menyentuh pengalaman hidup masyarakat secara langsung. Semakin dekat isu yang diperjuangkan dengan kebutuhan sehari-hari rakyat, semakin besar pula peluang gerakan tersebut memperoleh legitimasi sosial.
Di Indonesia, BBM bukan sekadar komoditas energi. Ia merupakan penggerak utama aktivitas ekonomi rakyat. Setiap perubahan harga BBM akan memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, harga kebutuhan pokok, hingga daya beli masyarakat. Karena itu, persoalan BBM hampir selalu melampaui dimensi ekonomi dan berubah menjadi persoalan sosial-politik yang menyangkut kehidupan jutaan warga negara.
Tidak mengherankan jika isu BBM berulang kali menjadi titik temu berbagai keresahan sosial. Ia menjadi simbol dari meningkatnya biaya hidup, berkurangnya kemampuan ekonomi masyarakat, dan kekhawatiran akan masa depan yang semakin sulit diprediksi.
Setiap pemerintahan pasti menghadapi kritik dan ketidakpuasan. Hal itu merupakan bagian normal dalam kehidupan demokrasi. Akan tetapi, yang perlu mendapat perhatian serius adalah ketika ketidakpuasan berkembang menjadi ketidakpercayaan.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa gerakan sosial besar tidak lahir hanya karena tekanan ekonomi. Gerakan tersebut tumbuh ketika masyarakat mulai kehilangan keyakinan bahwa institusi-institusi yang ada mampu menjawab persoalan yang mereka hadapi.
Ketika rakyat merasa suaranya tidak didengar, ketika keluhan mereka tidak memperoleh respons yang memadai, dan ketika kebijakan publik dipersepsikan semakin jauh dari kebutuhan masyarakat, maka perlahan-lahan terbentuk jarak psikologis antara negara dan warga negara.
Jarak inilah yang menjadi titik rawan dalam kehidupan demokrasi.
Kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh kemampuannya membungkam kritik, melainkan oleh kemampuannya menjaga kepercayaan publik. Sebaliknya, ketika kritik dipandang sebagai ancaman dan aspirasi dianggap sebagai gangguan, maka ruang dialog menyempit dan ketidakpercayaan tumbuh semakin luas.
Dalam situasi semacam itu, demonstrasi menjadi salah satu mekanisme sosial yang digunakan masyarakat untuk menarik perhatian negara terhadap persoalan yang mereka rasakan.
Ruang Publik yang Mengalami Defisit Kepercayaan
Fenomena yang sedang berlangsung saat ini sesungguhnya tidak dapat dipahami hanya melalui pendekatan ekonomi atau politik semata. Di balik kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan terhadap daya beli masyarakat, dan berbagai kebijakan yang memunculkan kritik, terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni melemahnya kepercayaan publik terhadap ruang komunikasi antara negara dan masyarakat.
Dalam banyak kasus, gelombang protes sosial lahir bukan semata karena persoalan ekonomi atau politik, melainkan karena menguatnya defisit kepercayaan dalam ruang publik. Masyarakat merasa bahwa aspirasi mereka semakin sulit menemukan saluran yang efektif dalam proses pengambilan keputusan, sehingga berbagai bentuk aksi kolektif menjadi alternatif untuk menyampaikan suara mereka. Secara formal masyarakat mungkin didengar. Namun secara substantif mereka merasa tidak sungguh-sungguh dilibatkan.
Pada titik inilah ruang publik mengalami gangguan. Ruang publik yang ideal seharusnya menjadi arena dialog antara negara dan warga negara. Ia menjadi tempat pertukaran gagasan, kritik, aspirasi, dan perbedaan pandangan secara terbuka. Akan tetapi ketika komunikasi lebih banyak berlangsung satu arah, ketika kebijakan lebih sering diumumkan daripada didiskusikan, dan ketika kritik lebih sering dicurigai daripada dipahami, maka ruang publik kehilangan fungsi deliberatifnya.
Akibatnya, masyarakat mencari saluran alternatif untuk menyampaikan suara mereka. Demonstrasi, petisi publik, kampanye media sosial, hingga berbagai bentuk aksi kolektif lainnya menjadi instrumen untuk mengisi kekosongan ruang dialog yang semakin dirasakan.
Dalam konteks inilah aksi mahasiswa harus dibaca. Ia bukan semata penolakan terhadap satu kebijakan tertentu, melainkan indikator bahwa sebagian masyarakat merasakan semakin lebarnya jarak antara pengambil kebijakan dan realitas kehidupan sehari-hari rakyat.
Persoalan terbesar dalam demokrasi bukanlah keberadaan kritik. Kritik justru menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap arah perjalanan bangsanya. Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat kehilangan kepercayaan dan memilih diam karena merasa suaranya tidak lagi berarti.
Karena itu, yang perlu dibaca dari gelombang aksi mahasiswa hari ini bukan hanya substansi tuntutannya, tetapi juga pesan sosial yang terkandung di baliknya. Demonstrasi merupakan tanda bahwa sebagian ruang publik sedang mengalami tekanan, sementara sebagian masyarakat sedang berusaha memastikan bahwa suara mereka tetap terdengar.
Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa hampir selalu hadir pada momentum-momentum ketika masyarakat mengalami kebuntuan komunikasi dengan kekuasaan. Dari 1966, 1974, 1998, hingga berbagai gerakan pascareformasi, pola tersebut terus berulang.
Mahasiswa bukanlah kelompok yang paling kuat secara politik maupun ekonomi. Namun mereka memiliki modal yang sering kali tidak dimiliki kelompok lain, yakni legitimasi moral. Posisi mereka yang relatif berada di luar lingkaran kekuasaan membuat suara mereka lebih mudah diterima sebagai representasi kepentingan publik.
Ketika mahasiswa berbicara tentang harga kebutuhan pokok, mereka sedang berbicara tentang dapur rakyat. Ketika mereka berbicara tentang BBM, mereka sedang berbicara tentang biaya hidup masyarakat. Ketika mereka mengkritik kebijakan publik, mereka sedang menyuarakan kualitas kehidupan sehari-hari warga negara.
Di sinilah kekuatan simbolik gerakan mahasiswa berada.
Sejarah memperlihatkan bahwa gerakan sosial tidak membesar karena demonstrasi itu sendiri. Gerakan membesar karena masyarakat merasa tidak didengar.
Pada awalnya masyarakat menyampaikan aspirasi. Ketika aspirasi tidak memperoleh respons, lahirlah kritik. Ketika kritik diabaikan, muncul protes. Dan ketika protes tidak menemukan ruang dialog, maka lahirlah gerakan yang lebih luas.
Pelajaran sejarah menunjukkan bahwa stabilitas sosial tidak dibangun melalui pembungkaman, melainkan melalui kemampuan negara merawat kepercayaan publik.
Mendengar bukan berarti menyetujui seluruh tuntutan. Mendengar berarti mengakui bahwa terdapat keresahan yang nyata dan bahwa keresahan tersebut membutuhkan jawaban yang meyakinkan.
Saat Kegelisahan Menjadi Gerakan
Pada akhirnya, yang sedang kita saksikan hari ini bukan sekadar aksi mahasiswa di Jakarta. Yang sedang berlangsung adalah proses sosial yang lebih besar, transformasi kegelisahan individual menjadi kesadaran kolektif.
Kegelisahan ekonomi, ketidakpastian masa depan, menurunnya daya beli, serta meningkatnya beban hidup masyarakat telah menciptakan ruang keresahan yang semakin luas. Mahasiswa hanyalah salah satu aktor yang saat ini mampu menerjemahkan keresahan tersebut ke dalam bahasa politik yang dapat didengar publik.
Karena itu, jika aksi mahasiswa hanya dibaca sebagai persoalan ketertiban atau sekadar peristiwa demonstrasi, maka yang terlihat hanyalah permukaannya. Di bawah permukaan itu terdapat persoalan yang lebih mendasar, yakni kegelisahan sosial yang sedang mencari salurannya.
Sejarah mengajarkan bahwa kegelisahan yang terus menumpuk tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan mencari bahasa, simbol, dan aktornya sendiri. Ketika ketiganya bertemu, lahirlah gerakan.
Hari ini mungkin kita baru melihat riak-riak kecil. Namun setiap gelombang besar dalam sejarah selalu bermula dari riak yang tampak sederhana.
Karena itu, yang paling dibutuhkan saat ini bukanlah saling mencurigai, melainkan keberanian untuk mendengar, kebijaksanaan untuk memahami, dan kesungguhan untuk memperbaiki.
Sebab bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang bebas dari kritik, melainkan bangsa yang mampu mengubah kritik menjadi energi perbaikan dan kegelisahan menjadi momentum untuk memperkuat demokrasi.***








Komentar