oleh

GURABATI OPEN: SEBUAH PERAYAAN EKSISTENSI


 

Kita hanya bisa memahami yang besar melalui yang kecil….” (Von Goethe)

GURABATI, sebuah nama yang mungkin tak tercatat dalam “peta besar” sepak bola dunia, sebuah ritual kembali dimulai. Edisi ke-28.

Angka itu bukan sekadar hitungan waktu, tapi sebuah ketekunan—sebuah narasi tentang bagaimana sebuah komunitas menolak untuk lekas lupa dan lekas menyerah.

Baca Juga  JEJAK KEAGUNGAN DI LAYAR XX1 —Monumen Jiwa Pahlawan dari Tanah Rempah

​Laga pembuka antara A.S. Rumania FC dan Garuda Tomagoba FC, bukan sekadar perkara dua puluh dua (22) orang memperebutkan si kulit bundar.

Ia adalah sebuah “teater.” Di sana, kita melihat bagaimana “identitas diri” dikukuhkan.

Sepak bola, dalam banyak hal, adalah sisa-sisa dari “agon”–pertarungan kuno yang jujur—di mana kehormatan tidak ditentukan oleh kontrak-kontrak yang dingin, melainkan oleh “keringat” yang tumpah di atas rumput.

Baca Juga  Opini: Kegaduhan Digital dan Dilema Penegakan UU ITE di Ruang Publik

​Mungkin kita perlu melihat ini dengan cara yang sedikit berbeda.

Di kota-kota besar, sepak bola telah menjadi industri yang “teralienasi,” dijauhkan dari akarnya oleh uang dan birokrasi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *