Oleh: M.Guntur Alting
Di lorong-lorong FISIP, langkah itu kian sunyi, Ijazah ditumpuk, dihitung laksana barang industri.
Negara datang membawa angka, membawa timbangan, “Oversupply,” katanya, sambil mematikan harapan.
Sosiologi digugat, filsafat dianggap beban, Sejarah dikunci, dianggap tak memberi makan.
Tapi di balik angka, ada jiwa yang mengerang, Apakah manusia kini hanya sekadar sekrup pemenang?
-000-
Dunia pendidikan kita sedang “bergetar.” Sebuah maklumat lahir dari Kemendiktisaintek per-April 2026.
Isinya tegas: program studi yang dianggap “berlebih” dan “tidak relevan” dengan industri akan ditinjau ulang, bahkan ditutup.
Saya melihat ada lima noktah penting untuk kita renungkan bersama dalam melihat fenomena ini:
1. Lonceng Kematian bagi Menara Gading
Kita harus jujur, selama berpuluh tahun banyak kampus terjebak dalam pola “pabrik ijazah”.
Mereka memproduksi ribuan lulusan sosial dan kependidikan tanpa melihat apakah pasar sanggup menyerapnya.
Kebijakan ini adalah lonceng pengingat bahwa kampus tak boleh lagi menjadi menara gading yang asyik sendiri, sementara di luar sana, dunia kerja sudah berubah menjadi “rimba digital” yang ganas.







Komentar