By.Jacob Ereste
Editor : Usman Sergi
Di tengah dunia yang gaduh oleh syahwat kuasa dan rasionalitas instrumental, spiritualitas hadir bukan sebagai pelarian, melainkan penyeimbang. Ia adalah jangkar ketika otak terlampau otoriter dan hati dibungkam. Maka benar: tatanan dunia yang kacau hanya mungkin diimbangi dengan laku spiritual.
Dialektika Intelektual-Spiritual: Mengurai Ketimpangan Epistemik
Teori multiple intelligences Howard Gardner menempatkan kecerdasan eksistensial-spiritual sejajar dengan kecerdasan logis-matematis. Masalahnya, peradaban modern mengalami cognitive imperialism—otak dimahkotai, batin dipinggirkan. Akibatnya muncul apa yang disebut Erich Fromm sebagai “pathology of normalcy”: orang tampak rasional, tapi batinnya insomnia. Otak agresif, jiwa gelisah tanpa juntrungan.
Spiritualitas bekerja sebagai self-regulation system. Dalam neurosains, praktik seperti yoga dan mindfulness terbukti mengaktivasi prefrontal cortex sekaligus menurunkan aktivitas amygdala—pusat cemas. Maka laku spiritual bukan anti-rasio, melainkan pengendali agar rasio tak jadi tirani.








Komentar