Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)
Dua hari setelah kesepakatan antara delegasi perundingan Iran dan AS akan dilanjutkan di Wina, 2 Maret, AS dan Israel melancarkan pemboman besar-besaran di berbagai kota Iran yang juga menyasar sekolah dasar yang menewaskan lebih dari seratus muridnya di Kota Ilam. Padahal hasil perundingan putaran ketiga di Geneva yang dimediasi Oman dikatakan mengalami kemajuan substansial.Menlu Oman Badr bin Hamad al-Busaidi – setelah bertemu Wapres AS JD Vance, 27Februari — menyatakan, ia percaya semua isu dalam deal antara Iran dan AS dapat diselesikan secara damai dan komprehensif.
Tuduhan bahwa Iran sedang membangun bom nuklir sesuai dengan narasi Israel, bertentangan dengan pernyataan badan intelijen AS dan badan pengawas nuklir PBB (IAEA) bahwa tuduhan itu tak berdasarkan bukti. Memang narasi Trump dan pembantunya hanya preteks fabrikasi untuk menjustifikasi untuk memerangi Iran. Perang cepat dengan hasil pergantian rezim (regime change) dibutuhkan Trump untuk memperkuat citranya sebagai pemimpin kuat dan andal yang dapat dijadikan leverage bagi agenda regime change di negara lain. Karena itu, pemimpin tertinggi Iran,Ayatullah Ali Khamenei, dijadikan target.
Perlawanan Iran
Serangan dilancarkan saat ekonomi Iran sedang goyah dan ketegangan sosial sedang tinggi akibat tewasnya ribuan demonstran menyusul demosntrasi besar memprotes rezim. Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu mengorkestrasi demonstrasi dan mendorong demonstran untuk mengambil alih lembaga-lembaga negara. Tapi upaya regime change kembali gagal. Dalam perundingan di Geneva, Iran bersedia untuk tidak menyimpan fisi nuklir yang telah diperkaya. Bahkan bersedia membuka pintu bagi masuknya perusahaan minyak AS ke sektor energinya, dan membeli pesawat komersial AS, dengan imbalan sanksi atas Iran dicabut.
Namun, Trump, atas bujukan Netanyahu, lebih memilih regime change melalui otot, lupa bahwa ada kekuatan besar lain yang akan menghambatnya. Pada 19 Februari, Iran, Rusia, Tiongkok, melaksanakan latihan perang di Teluk Oman. Ini pesan kepadaTrump bahwa Moskow dan Beijing tak bisa menerima tujuan perang Trump–Netanyahu. Tak heran, Tiongkok dan Rusia bahu–membahu memasok senjata kepada Iran yang akan dibayar dengan minyak Iran. Beijing dan Moskow memang berkepentingan memastikan survival rezim mullah dan mengalahkan Trump secara politik. Tiongkok adalah importir terbesar minyak Iran. Belum lagi, Iran adalah satu-satunya negara di kawasan yang menjadi sekutu alami Tiongkok. Sama seperti AS bagi Amerika Latin, Rusia juga melihat rezim Iran sebagai buffer zone bagi sphere of influence Rusia di Asia Tengah.
Pembunuhan Khamenei
Kematian Ayatullah Ali Khamenei secara arogan disambut riang gembira oleh Trump dan Netanyahu dengan narasi pejoratif yang merendahkan martabat tokoh sentral di kalangan komunitas Syiah itu.Tiongkok dan Rusia memprotes keras. Sedangkan UE dan banyak negara lain mengungkapkan penyesalannya.Memang aksi Israel-AS sangat ceroboh. Insiden ini menunjukkan keduanya pongah terhadap doktrin Syiah, posisi Khamenei, dan struktur kekuasaan Iran. Sampaia abad ke-18, mainstream komunitas Syiah memeluk aliran Akhbari, yaitu penantian pasif atas kedatangan Imam Mahdi yang ghaib kubra sejak abad ke-10. Tapi di paruh kedua abad ke-18, aliran Usuli mulai berpengaruh.
Usuli menganggap komunitas Syiah harus berperan aktif dalam menyambut kedatangan Imam Mahdi. Aktif dalam hal ini adalah bergiat dalam bidang politik menghadapi rezim sekuler yang sedang menghancurkan Islam. Gerakan Usuli berhasil merebut kekuasaan dalam revolusi 1979 pimpinan Ayatullah Ruhullah Khomeini. Ali Khamenei termasuk dalam aliran ini. Khomeini sejak muda menjadi guru bagi banyak eksponen revolusi. Salah satunya adalah Khamenei. Ia pernah dipenjarakan dan disiksa oleh Savak, badan intelijen Shah.
Sebagai konsekuensi pemahaman Usuli, revolusi Iran mendirikan negara theo demokrasi, perpaduan antara sistem demokrasi modern dan teologi Syiah.Ini merupakan pemikiran Khomeini dengan menempatkan lembaga Velayat-e Faqeh (otoritas ahli fikih) di puncak struktur Republik Islam. Lembaga ini memiliki keputusan final atas semua kebijakan negara. Velayat–e Faqih merupakan representasi Imam Mahdi yang adalah penerus risalah Nabi Muhammad Saw. Sebelum menduduki Velayat-Faqeh menyusul kematian Khomeini (1989), Khamenei adalah presiden Iran. Kebijakan Khamenei meresahkan Israel, AS, dan negara-negara Arab Teluk.
Pertama, ia membangun poros perlawanan – terdiri dari proksi di Irak, Lebanon, Gaza, Yaman, dan bersekutu dengan rezim Bashar al-Assad di Suriah – guna menantang hegemoni AS dan Israel di kawasan. Kebijakan lain: membangun program nuklir untuk tujuan sipil dan program rudal ketika Iran dikenai embargo senjata oleh Barat sebagai deterrence terhadap ancaman eksternal. Bagaimanapun, program rudal mengancam supremasi militer Israel. Tuntutan Trump agar program nuklir Iran dihentikan total, program rudal dibatasi, dan Iran membubabarkan poros perlawanan ditolak Khamenei. Tapi aksi membunuhnya tidak mengubah apapun. Khamenei digantikan sebuah dewan interim sampai pemimpin definitif terpilih dalam pemilihan Majelis Ahli, terdiri dari 88 ulama senior.
Dinamika Timteng
Harapan Trump-Netanyahu melihat perubahanrezim di Iran tentu saja isapan jempol belaka. Masyarakat Iran sangat sensitif terhadap intervensiasing dalam urusan domestiknya. Sebaliknya, determinasi Iran untuk melawan kekuatan aroganmengeras. Iran langsung membalas serangan denganmenyerang Israel, kapal perang AS, serta pangkalanmiliter AS di Irak dan Yordania, serta Dewan KerjaSama Teluk (GCC) – terdiri dari Kuwait, Bahrain, Qatar, UEA, Oman, dan Arab Saudi. Kesemuanyamencapai sasaran. Kini, perang tidak dapat dikontrolAS dan Israel. Yang bisa menghentikan perang hanyaIran.
Dan Iran akan menuntut konsesi besar kalauperang harus diakhiri. Dus, perang masih akanberlangsung keras yang berpotensi menyeret negara-negara di luar kawasan dan menghadirkankehancuran lebih besar. GCC mengecam seranganIran ke teritorinya dan membuka kemungkinanmereka bersatu melawan Iran. Tapi ini tidak mudah. Secara politik, mereka akan terlihat sebagaikolaborator AS dan Israel. Bagaimanapun, genosidadan ethnic cleansing di Gaza dan Tepi Barat dengandukungan AS membuat antipati publik Arab terhadapTrump-Netanyahu meluas. Sebaliknya, simpati pada Iran membesar.
Namun, dengan cara apapun, GCC akan melakukan sesuatu. Pertama, untuk menyelamatkan masa depan mereka. Serangan Iran telah memukul aktivitas bisnis mereka. Kedua, ketidakmampuan mereka menangkis rudal dan drone Iran menghancurkan citra Teluk yang stabil dan surga bagi investasi dunia. Ketiga, AS tidak dapat diandalkan sebagai pelindung dari ancaman Iran.Situasi akan bertambah buruk kalau Iran menutup selat Hormuz, rute lalu-lalang tanker-tanker internasional yang mengangkut 20 persen kebutuhan energi dunia. Harga minyak dunia bisa melejitsampai 200 dolar AS per barel. Ini akan memukulekonomi dunia yang bisa menjadi raison d’etre bagiketerlibatan pihak eksternal, yang membuat dinamikaTimteng semakin berbahaya dan rumit.
Iran menguasai seluruh pulau di mulut Selat Hormuz yang sempit itu, seperti Pulau Abu Musa, Tunb Besar, dan Tunb Kecil, yang semuanyadijadikan pangkalan militer Iran. Pada 24 Februari, Reuters melaporkan, Iran dan China hampirmencapai kesepakatan soal penjualan rudalsupersonik antikapal perang CM-302 milik China. Ini senjata ofensif yang mampu menghindari sistempertahanan kapal perang AS. Sementara Rusia menjual rudal Verba kepada Iran, termasuk 2.500 unit rudal 9M336. Iran mungkin juga sudahmenerima helikopter serang Mi-28NE dari Rusia.Bersama kapal selam Iran yang bersiaga, semuapersenjataan ini diduga mampu memblokade Selat Hormuz.
Kalau sampai hari ini Iran belum melakukannya, pertimbangan utamanya adalah tidak mengundangkemarahan Tiongkok khususnya. Sementara itu, isuPalestina terabaikan. Padahal, serangan AS dan Israelke Iran serta pendirian Dewan Perdamaian (BoP) merupakan satu paket untuk melenyapkan ancamanIran dan menguburkan Impian Palestina memilikinegara. Tapi kini perhatian Arab tersedot ke perangIran Vs Israel-AS. Timteng menjadi lebih runyamketika Hezbollah dan Houthi telah memasukigelanggang.
Dampak Terhadap Trump dan Netanyahu
Kendati kekuatan militer Iran tidak sebandingdengan AS-Israel, bukan mustahil perangdimenangkan secara politik oleh Iran. Di AS, dukungan terhadap perang rendah. Kongres pun mendesaknya menjelaskan alasan dan tujuan perang, dan memintanya tunduk pada konstitusi di mana otoritas deklarasi perang berada di tangan legislatif. Di saat bersamaan, lembaga-lembaga survey di AS menunjukkan Republik akan kalah telak dalampemilu sela pada November mendatang, terkaitkebijakan tarif dan dukungan Trump pada genosidaIsrael. Fakta-fakta ini menakutkan Trump.
Kalau Iran mampu bertahan dalam perangpanjang yang mendestabilisasi dunia dan kawasan, mengintimidasi publik Israel dengan hujan rudal, menewaskan lebih banyak tentara AS, dan mengurassumber daya AS, Trump akan terpaksa menghentikanperang. Kalau ini terjadi, Netanyahu tak punya pilihan lain ikut mundur.
Konsekuensinya, keduanyaakan jatuh. Ini sulit dibayangkan, tapi bukanmustahil. Dengan begitu, angan-angan menciptakanIsrael Raya terbengkalai dan ambisi Trump menciptakan tatanan internasional baru berbasisrealisme politik juga akan layu. Konsekuensi berikut:Trump harus berurusan dengan hukum terkaitEpstein File. Netanyahu akan bernasib sama terkaitkorupsi dan pelemahan lembaga peradilan. Bisa jadidunia senang dengan realitas ini sebagaimana Trump dan Netanyahu merayakan kematian Khamenei.
Tangsel, 2 Maret 2026






Komentar