oleh

NARASI PERANG AGAMA MELAWAN IRAN

Smith Alhadar : Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES); Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)

Pembalasan Iran terhadap operasi militer gabungan AS-Israel, di mulai pada 28 Februari, mengejutkan Washington dan Tel Aviv. Atas bujukan PM Israel Benjamin Netanyahu bahwa Iran dalam posisi sangat lemahmenyusul perang 12 hari pada Juni tahun lalu, ambruknya ekonomi Iran akibat sanksi AS, Barat, dan PBB, serta keresahan sosial demonstrasi besar yang menewaskan ribuan demonstran – Presiden AS Donald Trump menyetujui untuk melaksanakan serangan yang diperkirakan akan berlangsung singkat dengan hasil besar.

Serangan menyasar pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Juga para pejabat dan petinggi militer, sambil mengebom situs-situs nuklir, pangkalan militer, infrastruktur Garda Revolusi(IRGC), bahkan sekolah dan rumah sakit. Serangan terhadap sekolah SD di Minab, Iran Selatan, menewaskan 160-an murid perempuan.

Harapannya rezim mullah kolaps untuk memungkinkan kaki tangan AS-Irael, terutama faksi loyalis pimpinan Reza Pahlavi,  mengambil alih negara. Serangan dilakukan di tengah perundingan AS dan Iran telah mencapai kemajuan substansial terkait program nuklir Iran.

Dalam perundingan putaran ketiga di Geneva pada akhir Februari, Iran setuju tidak akan menyimpan fisi nuklir yang telah diperkaya, memberi akses penuh kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk mengawasinya, tapi menolak tuntutan Trump agar program nuklirnya diberhentikan total. Iran juga menolak program rudalnya dibatasi.

Selain konsesi program nuklirnya, Teheran juga membuka pintu bagi masuknya perusahaan minyak AS ke sektor energinya dan membeli pesawat komersial AS. Serangan ini jelas melanggar PiagamPBB, hukum internasional, dan norma kenegaraan dengab preteks fabrikasi. Anehnya, banyak negara di dunia, khususnya Barat. yang mengklaim berkomitmen pada tatanan internasional berbasis hukum, tidak mengecam agresi itu.

Padahal, Uni Eropa menentang invasi Rusia ke Ukraina dan menjatuhkan sanksi berat terhadapMoskow. Standar ganda Barat juga terlihat ketika mereka tak menjatuhkan sanksi atas Israel yang, menurut badan-badan PBB yang relevan, telah terjadi genosida di Gaza dan ethnic cleansing di Tepi Barat.

Rasionale yang dipakai Israel-AS berubah-ubah. Awalnya, Teheran dituduh sedang membuat bom nuklir meskipun CIA dan IAEA menyatakan tuduhan itu tidak memiliki bukti; berikut, mereka menyatakan Iran akan segera menyerang target AS di kawasan dan negara Israel; Iran adalah negara pendukung teroris terbesar di dunia karena ia membangun poros perlawanan.

Dikatakan pula, Iran akan menyerang langsung ke teritori AS dengan rudal balistik antar benua; AS terpaksa ikut menyerang Iran sebagai preemptive strike, untuk mencegah serangan Iran terhadap keentingan AS dan sekutunya di kawasan. Semua alasan ini bertujuan mendapatkan pembenaran International  dan dukungan domestik publik AS dan Israel.

Baca Juga  Catatan Dari Kota Pahlawan - Soeroboyo : Tak Ucapkan Bela Sungkawa Syahidnya Ali Khamenei, Muslim Arbi: Prabowo Takut dengan Amerika

Perubahan dari satu ke alasan lain mencerminkan dunia dan publik AS tidak bisamenerima alasan-alasan yang diada-adakan itu. Alasan yang sesungguhnya adalah menghancurkanrezim mullah sebagaimana dikatakan berulang oleh Trump dan telah menjadi cita-cita Israel sejak 40 tahun lalu.

Iran satu-satunya negara di kawasan yang independen dan penantang serius  supremasi militerIsrael, proksi AS dan sekutu Barat, di kawasan.Bahkan menjadi penghalang pendirian Israel Raya”, yang teritorinya membentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Efrat di Suriah.

Akibat salah perhitungan, AS kini terjerat dalamrawa-rawa perang kawasan tanpa Trump mampumengendalikannya. Pembunuhan terhadap Khamenei bukannya menghasilkan keos, malah menyatukanrakyat Iran dan menyemangati rezim untukmelancarkan all out war yang tidak hanya menyasarIsrael dan aset militer AS di Laut Arab, tapi juga semua fasilitas AS di negara-negara Teluk yang menjadi urat saraf militer AS.

Iran bahkan menutup Selat Hormuz, rute lalu-lintas tanker-tanker internasional yang mengangkut20-25 persen kebutuhan energi dunia. Maka, terjadikrisis ekonomi global akibat melejitnya hargaminyak dunia. Dalam keadaan terisolasi dan rendahnya dukungan rakyat, para pejabat AS dan Israel mulai menarasikan perang yang merekaciptakan ini sebagai Armageddon.

Armageddon merujuk pada pertempuran terakhirdan dahsyat antara kekuatan kebaikan dengankejahatan di akhir zaman, sering dikaitkan dengankehancuran total atau akhir dunia. Tujuannyamemobilisasi dukungan komunitas Kristiani dan Yahudi global untuk mendukung perang ini.

Ketika perang memasuki hari kelima, saat tujuanperang AS dan Israel tak tercapai dan mulaikeawalahan menghadapi Iran, para pejabat AS dan Israel beretorika bahwa ini perang agama. OrganisasiHak-hak Sipil Muslim AS, yakni Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mengecam penggunaanretorika ini oleh Pentagon.

CAIR menganggapnyaberbahaya” dan “anti-Muslim”. Yayasan Kebebasan Beragama Militer(MRFF) melaporkan bahwa ia telah menerima aduansurel dari seorang perwira bahwa merekadiperintahkan untuk mengatakan kepada pasukan ASbahwa perang dengan Iran diniatkan untukmenyebabkan Armageddon” atau kiamat biblikal.

Dan bahwa ini adalahsemua bagian darirencana Tuhandengan mengutip ayat-ayat Bibelterkait Armageddon. Serta bahwa Yesus Kristussegera muncul untuk kedua kalinya. MRFF adalahorganisasi nirlaba yang didedikasikan untukmemelihara kebebasan beragama bagi personelmiliter AS.

Baca Juga  SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Perwira tersebut mengklaim komandannyamengatakan kepada unitnya bahwa “Trump telahdiurapi oleh Yesus untuk menyalakan api isyarat di Iran guna memantik Armageddon dan menandaikembali beliau ke Bumi”. Para pemimpin Israel dan AS telah menggunakan retorika agama di ruangpublik.

Tak heran, baru-baru ini Melu AS Marco Rubio menyatakan Iran dikendalikan orang gila fanatikagama. Mereka memiliki ambisi mendapatkansenjata nuklir.”

Bulan lalu, Mike Huckabee, Duta Besar AS untuk Israel, mengatakan kepada komentator AS konservatif Tucker Carlson saat wawancara bahwatidak masalah jika Israel mengambil alih seluruhTimur Tengah karena itu adalah tanah terjanji yang termaktub dalam Bibel.

Sehari sebelum retorika Rubio, dalam briefing berita Pentagon, Menhan Pete Hegseth mengatakan: Rezim gila seperti Iran, bersikeras pada delusiIslamis nubuah, tak boleh memiliki senjata nuklir.”Dalam pernyataannya, CAIR mengklaim kata-kata Hegseth merujuk pada keyakinan Syiah tentangkemunculan Imam Mahdi.

Pada 1 Februari, Netanyahu merujuk pada Tauratmembandingkan Iran dengan musuh biblikalkuno, kaum Amalek. Dalam tradisi Yahudi, Amalekmereprentasikan dajjal. “Kami baca pekan ini dalambagian Taurat dikatakan Ingatlah apa yang dilakukanAmalek kepada kalian.’ Kami ingat – dan kami bertindak, katanya.

CAIR mengatakan: “Kami tak terkejut melihatNetanyahu mengulang kisah biblikal Amalek – mengklaim Tuhan memerintahkan Bani Israel membunuh semua pria, wanita. anak, hewan bangsapagan yang menyerang merekauntukmenjustifikasi pembunuhan warga sipil Iran, sebagaimana dilakukan di Gaza.

Warga AS harustersadar bahwa retorika perangsuci disebarluaskan oleh militer AS, Hegseth, dan Netanyahu, untuk menjustifikasi perang terhadapIran.Komentar yang bersifat ejekan Hegseth tentangkhayalan nubuah Islamis, yang merujukpada keyakinan tentang tokoh relijius akan munculpada akhir zaman, tak dapat dibenarkan.

Demikian pula apa yang dikatakan komandanmiliter AS kepada pasukannya bahwa perang denganIran adalah langkah menuju Armageddon. MenurutJolyon Mitchell dari Durham University, denganmeng-frame konflik ini sebagai perang suci, para pemimpin menggunakan keyakinan teologis untukmembenarkan aksi, mobilisasi opini politik, dan leverage dukungan.

Banyak orang dari kedua belah pihak yang terlibat konflik  percaya bahwa Tuhan berada di pihak mereka. Tuhan dimasukkan dalam konflik ini, sebagaimana banyak orang lainnya, untukmendukung tindak kekerasan. Demonisasi dan dehumanisasi musuh, the ‘others’, dengan sendirinyamembuat pembangunan perdamaian pasca konflikmenjadi lebih berat.

Ada tumpang tindih beberapa alasan, yang beroperasi pada tingkat berbeda: mobilisasidomestkc, framing peradaban, dan konstruksi naratifstrategis, kata Ibrahim Abusharif, lektor kepala pada Universitas Northwestern di Qatar.

Baca Juga  PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

Dalam sebuah video yang beredar di media sosial pekan ini, pastor Zionis Kristen dan televangelis John Hagee terlihat menyampaikankhotbah yang mempromosikan gempuran ASterhadap Iran. Hagee mengatakan bahwa Rusia, Turki, dan orang Iran yang tersisa serta kelompokIslamicsakan berbaris memasuki Israel. Tuhan akan meremukkan musuh-musuh Israel.

Abusharif mengatakan, “Bahasa relijiusmemobilisasi konstituen domestik.” Menjelaskan halini di AS akan menghubungkan secara mendalamdengan banyak kaum evangelis dan Kristen Zionis, karena mereka sudah melihat perang-perang Timtengsebagai bagian dari kisah kiamat keagamaan.

Merujuk pada hari kiamat, Kitab Wahyu, ataumusuh-musuh biblikal bukan kebetulan; merekamengaktifkan skrip ke budayaan yang sudah adadalam teologi politik AS. Framing peradabanmerujuk pada penciptaan dikotomi kita dan mereka, akan menjebloskan konflik sebagaibenturan antara keseluruhan jalan hidup ataukeyakinan, bukan hanya pertikaian perbatasan ataukebijakan.

Mengkreasi konflik sebagai perjuangan antaraperadaban dan fanatisisme, atau antara baik dan buruk menurut kitab suci, mentransformasikankonfrontasi regional yang kompleks menjadi drama moral di mana pendengar awam dengan mudahmenangkapnya.

Kepemimpinan Israel sudah lama menggunakanreferensi biblikal sebagai bahasa politik. Ini bukanbarang baru. Narasi itu telah mengglobal. Dalam wacana politik orang Israel, bahasa ini menempatkankonflik kontemporer dalam naratif historis orang Yahudi, dan memberinya sinyal taruhan eksistensial.

Netanyahu dan pejabat Israel lainnya sudah biasamenggunakan istilah “Amalek” dalam merujuk orang Palestina di Gaza selama perang genosida Israel di Gaza. Secara historis, selama perang atau konfrontasimiliter, presiden-presiden dan pejabat tinggi AS juga mengutip Bibel atau bahasa Kristen.

Presiden George W Bush mengutip Bahasa serupa setelah serangan 11 September 2001: “Perang Salib Ini, perang melawan terorisme ini akan berjalan mulai sekarang.” Perang Salib adalah rangkaianperang yang di-frame secara relijius, terutama di antara abad ke-11 dan ke-13, di mana bapak gerejaberperang melawan penguasa Muslim untuk merebutwilayah.

Abusharif mengatakan bahwa perang terhadapIran berkaitan dengan kekuasaan dan politik, tetapimenggunakan retorika agama menyemangati para pendukung dan memoralisasi konflik ini (Al Jazeera, 4 Maret 2026). Semoga rakyat Indonesia dari semuakomunitas agama dan mazhab tidak ikut terseretdalam narasi permainan para kolonialis-imperialis untuk tujuan kekuasaan.

Tangsel, 5 Maret 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *