oleh

Sosio-Puasa | Hari -20/21 : MERAWAT MARTABAT DI TENGAH RITUAL — Kritik Sosiologis atas Komodifikasi Anak Yatim

Dalam seremoni santunan, anak yatim sering dipaksa menempati “front stage” sebagai objek pasif yang harus menampilkan wajah syukur, sedih, atau penurut sesuai dengan narasi yang diinginkan penyelenggara.

Formalitas ini melahirkan ketimpangan relasi kuasa yang tajam. Penyelenggara mendominasi narasi, sementara anak yatim kehilangan agensi atas dirinya sendiri.

Mereka menjadi pajangan visual yang privasinya dikorbankan demi konten. Dampak jangka panjang dari objektifikasi ini sering luput dari perhatian; ketika eksploitasi visual ini menjadi normal, ia menciptakan stigmatisasi bahwa kemiskinan adalah kondisi yang layak dipamerkan untuk mendapatkan belas kasih.

Baca Juga  SATU LANGIT, DUA INTERPRETASI

Alih-alih kondisi struktural yang seharusnya diselesaikan lewat pemberdayaan yang bermartabat.

—000–

Dekonstruksi Filantropi: Menuju Kemanusiaan yang Substantif

Kritik ini bukan berarti menolak semangat kedermawanan. Sebaliknya, ini adalah sebuah panggilan untuk mendesak terjadinya dekonstruksi terhadap cara kita mempraktikkan solidaritas.

Kita harus beranjak dari kedermawanan yang bersifat “performative”—yang haus akan pengakuan dan validasi publik—menuju kedermawanan yang “emancipatory” atau membebaskan.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari - 18/19 : PULANG YANG TERTUNDA

Pemberian yang bermartabat seharusnya bersifat anonim atau setidaknya menghargai privasi penerima. ny
Bantuan yang substantif tidak akan berakhir di atas panggung seremoni, melainkan berlanjut pada akses pendidikan, kesehatan, dan pengembangan kapasitas jangka panjang yang memungkinkan anak-anak tersebut berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus menanggung beban “utang budi” di hadapan publik.

Baca Juga  Sosio-Puasa | Hari ke-4/5 : GEMA LANGIT DI ALTAR MODERNITAS

–000–

Akhirnya kdermawanan yang sejati seharusnya tidak memiliki kamera sebagai saksinya.

Saat kita mampu memisahkan antara dorongan untuk membantu dengan hasrat untuk memamerkan diri, saat itulah kita mulai memanusiakan anak yatim sebagai sesama manusia, bukan sebagai komoditas penunjang reputasi.

Kemanusiaan seharusnya menjadi ruang untuk berbagi, bukan panggung untuk mengukuhkan kekuasaan melalui eksploitasi kesedihan (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *