Namun, di balik dinding-dinding hotel dan ruang tunggu bandara yang dingin, terjadi sebuah fenomena sosial yang menarik.
Rasa senasib sepenanggungan (solidaritas) tumbuh lebih kuat. Jemaah yang tadinya tidak saling kenal mulai berbagi kurma, berbagi pengisi daya ponsel, hingga saling menguatkan lewat doa bersama.
Di titik ini, “terjebak” tidak lagi hanya berarti tertahan secara fisik, melainkan sebuah proses pembersihan ego. Bahwa manusia tetaplah mahluk kecil di hadapan skenario besar sejarah.
–000–
Esensi Kepasrahan
Situasi mencekam di langit Timur Tengah secara paksa mengembalikan jemaah pada esensi ibadah umroh yang paling murni: tawakal.
Jika dalam kondisi normal ibadah sering kali dianggap sebagai rutinitas perjalanan religi yang nyaman.
Situasi konflik mengubahnya menjadi perjalanan iman yang sesungguhnya. Ketidakpastian jadwal pulang menjadi metafora atas ketidakpastian hidup itu sendiri.
–000–
Pada akhirnya, terjebaknya jemaah di tengah konflik regional adalah pengingat bagi dunia internasional.
Bahwa di balik peta-peta kekuatan militer dan kepentingan strategis, ada ribuan warga sipil—para tamu Tuhan—yang hanya ingin pulang dengan selamat.
Langit yang mencekam mungkin bisa menutup jalur penerbangan. Namun ia tak akan pernah bisa menutup jalur permohonan yang dipanjatkan dari hati yang paling tulus.(***)













Komentar