oleh

Menjaga Gelar Khalifatullah – Manusia – Sebagai Wakil Tuhan di Bumi

Oleh Jacob Ereste 

Orang yang tidak pernah mau mendengar pendapat dan usulan orang lain, jelas memiliki tingkat egoisme di atas rata-rata yang dianggap penyimpangan psikologis yang tidak perlu ditaklukkan dengan cara face to face, karena yang terbaik kesadaran untuk melakukan koreksi diri itu akan lebih bagus dan efektif muncul dari yang bersangkutan sendiri. Karena itu, tak perlu rusau jika harus berhadapan dengan yang bersangkutan, karena sikap terbaik adalah menahan diri. Tak perlu memberikan komentar apa-apa hingga yang bersangkutan sendiri kelak akan menyadari bahwa pendapat dan pemikiran orang lain sesungguhnya perlu dan penting untuk didengar, kalau pun tidak dapat memberi solusi atau jalan keluar dari kebuntuan untuk menemukan jalan terbaik dari apa yang ada dalam perencanaan atau program yang hendak dilakukan.

Baca Juga  *Fenomena "Operasi Kodok" Yang Kini Semakin Gencar Digulirkan Melalui Media Sosial Berbasis Internet*

Kecenderungan orang untuk ngomong dan enggan mendengar omongan orang lain adalah sikap bijak yang masih perlu disempurnakan. Setidaknya untuk belajar menjadi pe dengar yang baik memang harus mendapat perhatian tersendiri. Sebab hanya dengan mendengar secara serius dan jernih, kesimpulan dapat dilakukan antara yang baik dengan yang buruk.

Kemampuan untuk mendengar pembicaraan orang dengan cara yang baik dan bijak, memang terkadang tidak seiring dengan kemampuan berbicara yang bisa nyerocos seperti air yang meluncur dari sebuah bendungan yang sedang meluap. Itulah sebabnya tradisi curhat – mencuri perhatian jadi dianggap halal – bahkan sering dianjurkan oleh psikolog agar tidak sampai menjadi penyakit yang merusak jiwa. Dalam konteks inikah perspektif psikologis spiritual sangat diperlukan. Karena soal perasaan yang tertahan dan mengendap bisa menjadi batu ginjal yang tidak tampak wujudnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *