oleh

Isu Dugaan Pemanfaatan Bijih Nikel Sitaan Negara: Ujian Konstitusional Penegakan Hukum Pertambangan

-Artikel/Opini-1190 Dilihat

Oleh: Safrin Samsudin Gafar, S.H.
Pemerhati Hukum

Isu dugaan pemanfaatan sekitar 90.000 metrik ton bijih nikel yang dilaporkan berada dalam penguasaan negara dan tengah ditangani aparat penegak hukum dinilai sebagai ujian serius bagi sistem penegakan hukum pertambangan nasional, khususnya di Provinsi Maluku Utara sebagai salah satu daerah penghasil sumber daya alam strategis.

Baca Juga  MENENUN KEMANUSIAAN DARI RERUNTUHAN — Refleksi dari Pameran Seni Ukraina

Pemerhati hukum Safrin Samsudin Gafar, S.H. menegaskan bahwa dalam negara hukum, setiap komoditas mineral yang telah berada dalam penguasaan negara tidak dapat diperlakukan sebagai objek komersial biasa.

“Dalam negara hukum, setiap komoditas mineral yang telah berada dalam penguasaan negara—baik akibat pencabutan izin, proses hukum, maupun mekanisme sah lainnya—tidak dapat diperlakukan sebagai objek komersial biasa,” tegas Safrin.

Baca Juga  MENATA ULANG KEKUASAAN EKONOMI NEGARA — Oleh: Gunawan Adji (Konsultan Tata Kelola, Manajemen Risiko & Kepatuhan/GRC)

Ia menambahkan, setiap bentuk penguasaan, pemanfaatan, atau pemindahtanganan mineral tersebut hanya dapat dibenarkan apabila memiliki dasar hukum yang jelas, tertulis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Safrin mengingatkan bahwa landasan konstitusional pengelolaan sumber daya alam telah ditegaskan secara eksplisit dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Baca Juga  Selektif Hukum dan Birokrasi Bayangan di Sektor Agraria.

“Konstitusi secara tegas menempatkan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di bawah penguasaan negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *