Oleh: AAHoda (Ketua STPK Banau)
Jumat (10/4/2026) membawa berkah, tepatnya pukul 15.10 WIT, saya menghadiri sebuah giat yang dilaksanakan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Barat. Sungguh sebuah acara sederhana namun sarat makna. Gerakan Cinta Damai dengan tema : Toleransi dalam Keberagaman, Harmoni dalam Kebersamaan untuk mempererat Persaudaraan memiliki makna terdalam untuk memperkokoh tali kasih di tengah masyarakat.
Giat yang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, oganisasi kepemudaan, perangkat desa, unsur legislatif dan eksekutif semuanya memperkuat komitmen dalam bingkai kerukunan di tengah dunia yang semakin mudah tersulut oleh perbedaan, Halmahera Barat berdiri sebagai pengingat bahwa damai bukan sekadar wacana. Ia hidup, tumbuh, dan dijaga—meski tidak selalu tanpa ujian.
Masyarakat Halmahera Barat telah lama memahami satu hal sederhana: bahwa perbedaan agama bukan alasan untuk berjarak. Justru di sanalah ruang untuk saling mengenal dibuka. Namun kita juga tidak boleh naif—kerukunan ini tidak hadir begitu saja. Ia dibangun di atas kesadaran kolektif, sekaligus kewaspadaan terhadap berbagai kepentingan yang kerap mencoba meretakkan persatuan.
Semua agama pada dasarnya mengajarkan nilai yang sama: kasih, kedamaian, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS. Al-Kafirun: 6)—sebuah penegasan tentang penghormatan terhadap keyakinan orang lain. Dalam Alkitab, tertulis: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Sementara dalam ajaran Hindu dikenal prinsip Tat Twam Asi—“Aku adalah engkau, engkau adalah aku”, yang mengajarkan empati dan kesatuan. Dalam Buddha, kita diajak untuk menebar cinta kasih universal (metta) kepada semua makhluk tanpa kecuali.








Komentar