Oleh: Rizal Tanjung
Di dalam lorong-lorong sejarah yang berdebu, kita sering menemukan nama-nama yang diukir dengan tinta emas—namun sayangnya, tidak semua tinta itu jujur. Ada yang ditulis dengan cahaya kekuasaan, ada yang dipahat oleh kepentingan, dan ada pula yang dibiarkan memudar seperti senja yang tak sempat dikenang.
Tulisan Jacob Ereste hadir seperti angin yang membuka jendela lama—mengibaskan tirai-tirai yang selama ini menutupi wajah sejarah perempuan di negeri ini. Ia tidak sekadar menulis; ia seperti menyalakan pelita di ruang gelap yang selama ini kita anggap terang.
Namun, barangkali kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar menyebut satu nama yang terus-menerus dielu-elukan dalam narasi besar bangsa: Raden Ajeng Kartini.
Kartini, ya—ia adalah cahaya. Tetapi sejarah bukanlah langit dengan satu bintang.
—
Di tanah yang sama, jauh sebelum dan sesudah Kartini menulis surat-suratnya yang menggetarkan nurani, berdirilah perempuan-perempuan lain yang tak kalah nyala. Mereka tidak selalu menulis dengan pena—sebagian menulis dengan darah, dengan keberanian, dengan kehilangan.
Siapakah yang mengingat Martha Christina Tiahahu, gadis belia dari Maluku yang melawan penjajah dengan dada terbuka, seolah maut hanyalah bayang-bayang yang tak berarti?
Atau Cut Nyak Dien, yang menjadikan hutan sebagai istana perjuangan, dan air mata sebagai sumpah setia terhadap kemerdekaan?
Dan Cut Nyak Meutia, yang menggenggam senjata dengan tangan yang sama yang pernah mengusap dahi anak-anaknya?
Mereka adalah puisi yang tidak ditulis—tetapi hidup dalam denyut nadi bangsa ini.








Komentar