—
Sejarah, sayangnya, sering kali seperti cermin retak: ia memantulkan wajah, tetapi tidak utuh. Ada bagian yang diperbesar, ada pula yang disembunyikan. Dan dalam retakan itulah, perempuan-perempuan pejuang sering terjatuh ke dalam sunyi yang panjang.
Mengapa hanya satu nama yang diagungkan, sementara yang lain seperti dikubur dalam tanah ingatan?
Apakah karena mereka tidak menulis dalam bahasa yang dimengerti penjajah?
Ataukah karena mereka tidak lahir dari ruang sosial yang dianggap “layak” untuk dikenang?
Di sinilah kita harus jujur: sejarah tidak pernah sepenuhnya netral. Ia adalah medan tafsir, tempat kekuasaan dan identitas sering bermain petak umpet.
—
Perempuan Indonesia bukan hanya simbol emansipasi dalam ruang domestik atau pendidikan. Mereka adalah tiang-tiang tak terlihat dari republik ini. Mereka adalah rahim yang melahirkan pejuang, tangan yang merawat luka, dan jiwa yang tak pernah tunduk meski dunia mencoba merendahkan mereka.
Di dapur, mereka meramu kekuatan.
Di medan perang, mereka menjelma badai.
Di balik layar, mereka adalah arsitek diam dari kemerdekaan.
Namun, sejarah sering hanya mencatat yang tampak di permukaan—seperti laut yang indah, tetapi lupa pada arus dalam yang menentukan arah.
—
Tulisan Jacob Ereste seperti sebuah pengingat: bahwa kita perlu menulis ulang sejarah dengan hati yang jernih dan keberanian yang jujur. Bukan untuk menyingkirkan Kartini dari singgasananya, tetapi untuk membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan lain untuk berdiri sejajar dalam ingatan kolektif bangsa.








Komentar