Karena itu, merawat damai tidak cukup hanya dengan niat baik. Ia membutuhkan keberanian untuk bersikap: menolak provokasi, mengkritisi narasi yang memecah belah, dan tidak membiarkan agama dijadikan alat kepentingan sesaat.
Dalam perspektif iman, menjaga perdamaian bukan hanya pilihan sosial, tetapi panggilan spiritual. Damai bukan sekadar kondisi tanpa konflik, tetapi buah dari kesadaran moral bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang layak dihormati.
Halmahera Barat telah membuktikan bahwa kerukunan itu mungkin. Tetapi mempertahankannya membutuhkan lebih dari sekadar kebiasaan—ia membutuhkan komitmen.
Di tengah berbagai kepentingan yang bisa saja datang dan pergi, satu hal harus tetap dijaga: bahwa kita semua, apa pun agama dan latar belakang kita, sedang berbagi rumah yang sama.
Dan damai, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling benar—melainkan tentang bagaimana kita tetap bersama.***








Komentar