oleh

Kerukunan Bukan Kebetulan: Catatan dari Halmahera Barat

Nilai-nilai ini tidak berhenti di teks. Di Halmahera Barat, ia hidup dalam praktik: dalam gotong royong lintas iman, dalam saling menjaga saat hari raya, dan dalam kesediaan untuk hadir bagi sesama tanpa melihat perbedaan.

Namun di sisi lain, kita juga harus jujur melihat realitas: kerukunan sering kali diuji oleh kepentingan di luar masyarakat itu sendiri. Politik identitas, misalnya, masih menjadi godaan yang kerap muncul—terutama menjelang momentum-momentum elektoral. Perbedaan agama yang seharusnya menjadi kekayaan, justru bisa direduksi menjadi alat mobilisasi dukungan.

Baca Juga  Presiden Prabowo segera saja menindak: MENKO PANGAN, MENDAG dan DIRJEN DAGLU.

Di titik ini, masyarakat tidak boleh lengah. Sebab sejarah di berbagai tempat telah menunjukkan, konflik tidak selalu lahir dari perbedaan itu sendiri, melainkan dari cara perbedaan itu dipolitisasi.

Halmahera Barat sejauh ini berhasil menunjukkan kedewasaan sosial: bahwa masyarakat tidak mudah dipecah oleh narasi sempit. Namun tantangan ke depan tidak akan lebih ringan. Arus informasi yang begitu cepat, media sosial yang sering kali menjadi ruang tanpa filter, serta kepentingan elite yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan rakyat—semua itu bisa menjadi ancaman nyata bagi harmoni sosial.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *