oleh

Digitalisasi Pendidikan Maluku Utara Menuai Kritik: Ruang Belajar Masih Krisis, Sherly Bangun Pendidikan “Tik Tok”

-HEADLINE-1353 Dilihat

“Kita lihat, di Sula dan Taliabu saja masih ada kecamatan yang belum memiliki SMA atau SMK negeri. Jadi untuk apa beli konten digital dan LMS kalau listrik dan internet pun belum menjangkau?” tambahnya.

”Ini nuansanya kebijakan pendidikan ala tik tok” ujar sumber of derecord ini satir

Ia mendesak agar DPRD Provinsi Maluku Utara melakukan evaluasi mendalam terhadap RAPBD 2026, khususnya di sektor pendidikan, agar tidak terjebak dalam “belanja simbolik” yang tidak berdampak nyata bagi pemerataan akses.

Baca Juga  Pejabat Daerah dan Pusat Ikut Nonton, Pertunjukan Monolog Pahlawan Nasional Jejak Perjuangan Dari Kie Raha Siap Guncang XXI Jati Land Ternate

Pandangan Pakar : Digitalisasi Harus Didahului Infrastruktur Dasar

Sementara itu, pakar kebijakan publik menilai bahwa kebijakan digitalisasi pendidikan seharusnya ditempatkan sebagai strategi pendukung, bukan prioritas utama.

“Kita tidak menolak digitalisasi, tapi harus diakui, tanpa ruang belajar, listrik, dan jaringan yang memadai, digitalisasi itu tidak akan hidup. Teknologi tidak bisa menggantikan ruang belajar yang nyata,” ujar Said Anwar.

Ia mengingatkan bahwa kegagalan membangun ruang kelas baru akan berdampak langsung pada capaian RPJMD Maluku Utara 2021–2026, terutama target Angka Partisipasi Murni (APM) SMA sebesar 82%.
“Faktanya, realisasi 2024 baru 69%. Jika pola ini berlanjut, maka target 82% hanya akan jadi angka di atas kertas,” tambah Said.

Baca Juga  Muslim Arbi Apresiasi BADKO HMI Malut “Haram”Kan Menteri ESDM Ke Bumi Moloku Kie Raha

Krisis Akses Pendidikan dan Paradoks Anggaran

Data Lampiran III RAPBD 2026 menunjukkan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Malut mengalokasikan:

Rp9,2 miliar (24,4%) untuk rehabilitasi gedung sekolah,

Rp27,83 miliar (73,7%) untuk pengadaan alat dan mesin (mayoritas alat digital dan LMS),

dan Rp.0 untuk subkegiatan pembangunan ruang kelas baru (RKB) maupun unit sekolah baru (USB).

Baca Juga  HEBOH ! Sebuah Postingan di FB, Bongkar Kedok Gub Sherly : Kamuflase Oligarki Hitam

Padahal, setidaknya 150 ruang kelas baru dibutuhkan untuk menampung siswa yang kini belum memiliki sekolah lanjutan negeri.
Kondisi ini membuat rasio siswa per kelas di Maluku Utara mencapai rata-rata 45–50 orang, jauh di atas standar nasional 32 siswa per kelas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *