Tony Rosyid : Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Apa indikatornya? Pertama, rupiah melemah. Tembus di atas 18.000 untuk USD $1. Kedua, IHSG terus turun selama enam bulan berturut-turut. Berada di bawah Rp. 6.000. Ini baru terjadi dalam sejarah. Ketiga, banyak perusahaan melakukan PHK, sehingga pemerintah terpaksa harus membuat satgas PHK. Keempat, angka pengangguran dan tingkat kemisikinan otomatis naik. Ini mengakibatkan deflasi (lemahnya daya beli) yang berkepanjangan. Kelima, karena PHK dan angka kemiskinan naik, maka tingkat kriminalitas juga naik. Keadaan ini mendorong aparat mewacanakan satgas begal di Jakarta.
Memang betul bahwa orang desa tidak butuh dolar. Tapi akibat dolar naik, bahan baku juga ikut naik. Bahan baku naik, modal produksi juga ikut naik. Kalau modal produksi naik, harga-harga di toko naik juga. Harga barang naik mengakibatkan daya beli masyarakat turun. Kalau jumlah pembelinya terus turun, maka produksi juga ikut turun dan ini mengakibatkan perusahaan terpaksa melakukan efisiensi. Efisiensi perusahaan melahirkan kebijakan PHK. PHK menyebabkan bertambahnya angka pengangguran, dan pengangguran menaikkan angka kemiskinan. Begitulah siklus ekonominya.
Keadaan ini sebagian karena warisan kebijakan pemerintahan sebelumnya, sebagian lagi dipicu oleh situsi global, terutama perang US-Iran yang memanas lagi dan mengancam krisis energi. Sebagian lainnya disebabkan oleh performen kebijakan pemerintah saat ini yang belum menunjukkan kemampuannya mengatasi masalah warisan dan kekinian. Sebaliknya, kasus korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN), kecurigaan publik terhadap Koperasi Merah Putih (KMP), pemangkasan terhadap dana Transfer Ke Daerah (TKD) dan struktur kolegialisme pemerintahan membuat kepercayaan publik terus tergerus
Ancaman krisis ekonomi dan menipisnya kepercayaan publik berpotensi menciptakan kerentanan yang bisa berakibat fatal secara politik bagi Prabowo.














Komentar