2 T adalah gabungan inisial dari Taufik Madjid dan Tauhid Soleman, dua sosok berkapasitas dengan pengalaman panjang dalam dunia birokrasi dan kepemimpinan pemerintah.
Oleh Husein Umasangadji /Aktivis
Provinsi Maluku Utara masih mencari sosok pemimpin ideal yang mampu mengkapitalisasi kekayaan SDA nya sesuai karakteristik wilayah bagi kemajuan daerah dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.Kita telah mencoba berbagai formula pemimpin namun sampai detik ini Maluku utara justru semakin terpuruk, negeri yang kaya hanya menjadi lahan empuk bagi oligarki meraup kekayaan sementara rakyatnya ibarat ayam di lumbung padi.
Fakta ! Sudah 25 tahun Maluku Utara berdiri sebagai provinsi, seharusnya usia seperempat abad dengan kekayaannya itu cukup untuk melahirkan wajah pembangunan yang matang. Kenyataannya, kita masih tertinggal dibanding banyak daerah pemekaran lain. Akar masalahnya dua: tata kelola pembangunan yang gagap memahami wilayah kepulauan, dan cengkeraman oligarki yang terus mendarah daging di pusaran kekuasaan.
1. Salah Arah: Mengabaikan Laut, Mengejar Tambang
Lihat peta Maluku Utara. Lautnya 69,8% dari total wilayah — lebih dari dua kali lipat luas daratannya. Secara logika, kebijakan pembangunan harus berporos ke laut. Nelayan, budidaya rumput laut, cold storage, pelabuhan perikanan, industri hilir perikanan. Laut memberi makan setiap hari, tidak perlu menunggu musim panen seperti pertanian.








Komentar