Oleh: M.Guntur Alting
Di sebuah stadion di Los Angeles, di bawah langit California yang membentang luas, waktu seolah berhenti tepat saat peluit dibunyikan antara Iran versus New Zealand.
Di tribun-tribun itu, sebuah pemandangan yang surealis tersaji: ribuan diaspora Iran berkumpul, namun mereka tidak datang sebagai satu “kesatuan ideologi.”
Saya selalu percaya bahwa stadion adalah tempat paling jujur di dunia. Di bawah lampu sorot yang benderang, topeng-topeng ideologi yang kita pakai sehari-hari di kantor, di media sosial, atau di ruang-ruang rapat, seringkali luruh begitu saja oleh keringat, teriakan, dan debar jantung yang sama.
Sore itu, di stadion Los Angeles, kita melihat sebuah “anomali” yang indah sekaligus getir. Saat Iran berlaga melawan Selandia Baru, tribun stadion bergemuruh hebat.
Namun, pemandangan yang tersaji di depan mata jauh lebih menarik daripada sekadar jalannya pertandingan. Di satu sudut tribun, bendera dengan lambang singa dan matahari—simbol Iran era Shah yang sudah menjadi fosil sejarah, yang diharamkan di Teheran sana—berkibar gagah.
Di sudut lain, bendera resmi Republik Islam Iran dengan kaligrafi “Allah” yang agung ikut melambai tertiup angin.
–000–
Secara teoritis, dua bendera ini adalah dua dunia yang saling meniadakan. Mereka adalah pengingat akan trauma besar 1979 yang membelah jiwa bangsa Iran. Yang satu merindukan kembalinya masa lalu yang sekuler; yang lain setia pada teokrasi yang berkuasa sekarang ini.







Komentar