Seingat saya, di rumah kami beras saja tak pernah lebih dari 50 kilogram. Lalu membayangkan adanya 74 kilogram emas yang menumpuk bersama uang dollar yang sedang melambung seperti sedang melecehkan uang rupiah, dapat dibayangkan seperti pasangan suami istri di seberang rumah yang selalu bertikai ketika harus menghitung nilai upah minimum yang tidak pernah klop untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga harus gali lubang dan menutup lubang persis narasi lagu rakyat yang pernah menduduki puncak popularitas untuk menggambarkan kondisi obyektif Oemar Bakrie yang sebelumnya sempat bermimpi berbulan madu ke bulan.
Dalam kisah drama “Cicak vs Buaya” dulu yang tersisa dalam ingatan tak jelas penyelesaiannya. Lalu muncul narasi baru semacam kisah pesaingnya “Gajah vs Banteng” seakan menjadi bukti dari perseteruan yang sesungguhnya sedang terjadi di negeri Konoha yang sulit dipahami dalam perspektif ramalan Jayabaya ratusan tahun silam. Sebab wawasan Nusantara — setelah menjadi negara kesatuan Indonesia — justru tidak cuma melupakan sejarah masa silam belaka, tapi juga kearifan lokal dari pola hidup sederhana dipaksa diubah menjadi hidup yang memberhalakan harta benda serta kejayaan yang melimpah tanpa perlu menyisakan sedikitpun bagi orang lain.







Komentar