Ke-empat kekuatan di atas, Jokowi dan Geng Solo-nya, Megawati dan PDIP-nya, SBY-AHY dan partai Demokratnya serta Anies Baswedan dan barisan pendukungnya yang militan tidak akan terakomodir kepentingan politiknya selama presidennya adalah Prabowo. Apa artinya? Kepentingan politik ke-empat kekuatan ini akan mendapatkan area kompetisinya jika Prabowo tidak mencalonkan lagi di 2029. Ke-empat kekuatan ini kompak menginginkan Prabowo tidak nyapres di pilpres 2029. Kenapa? Karena tidak ada titik temu kepentingan politik mereka di Prabowo.
Kecuali jika Prabowo ambil cawapresnya adalah Gibran. Maka, tiga kekuatan lainnya akan secara militan melakukan perlawanan. Begitu juga jika Prabowo ambil cawapresnya salah satu dari AHY, Puan Maharani atau Anies Baswedan, maka tiga kekuatan lainnya akan memberikan perlawanan yang boleh jadi sangat sengit.
Di tengah semakin menipisnya kepercayaan publik dan elektabilitas Prabowo yang semakin menurun, empat kelompok kekuatan di luar istana akan menjadi ancaman yang semakin serius.
Prabowo punya peluang menaikkan kekuatan politiknya hanya melalui sektor ekonomi. Jika IHSG membaik, rupiah menguat, lapangan kerja semakin terbuka, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai enam persen, daya beli masyarakat naik, dan indikator-indikator ekonomi lainnya semakin baik, maka dukungan rakyat kepada Prabowo akan menguat dan perlawanan politik di luar istana akan dengan sendirinya melemah. Berlaku juga hukum sebaliknya.
Ini semua bergantung kebijakan Prabowo kedepan, dan juga bagaimana kemampuan Prabowo mengawal proses teknis kebijakan itu di lapangan. Ini yang akan menentukan nasib politik Prabowo: apakah akan sampai 2029 dan mencalonkan lagi untuk periode kedua, atau justru ada petaka di tengah jalan.







Komentar