oleh

Silang Saking Sandra Menyandera Akan terus Menghantui Sampai Masuk ke Liang Kubur — Jacob Ereste


Menyandera dan disandera di Indonesia telah melahirkan “anak haram” dalam perselingkuhan politik yang gaduh di Indonesia. Sehingga upaya untuk saling menyandera telah dijadikan kekuatan politik dan sumber ekonomi yang bisa menumpuk dan melanggengkan kekuasaan dalam arti luas, jauh melampaui dugaan yang bisa dikalkulasi lewat manajemen ilmu secanggih apapun yang dapat dilakukan oleh para pakarnya di negeri ini.Nasib yang paling tragis adalah mereka yang tersandera, hingga hingga tidak bisa berkutik kecuali hanya bisa menghamba dan mengemis bekas kasihan, seperti Si Lebai Malang. Istilah untuk mereka yang tersandera tak bisa berkutik ini, ibaratnya “maju kena, mundur juga kena” hingga posisinya bisa jadi bukan-bulanan pemerasan, tak hanya dalam arti ekonomi, karena yang lebih parah nasibnya hanya bisa sendiko dawuh. Menuruti kehendak sang penyandera jadi kerbau yang dicocok hidungnya. Untuk menghadapi kondisi yang malang ini memang harus menghadapi dilema memilih seperti harus menentukan : *Bapak mati, atau Ibu yang mati”, inilah yang disebut banyak orang akibat dari memakan buah simalakama.

Baca Juga  CATATAN BUNG USSER ! FINAL PIALA DUNIA 2026: FINAL YANG MENGECEWAKAN — ARGENTINA TAMPIL BAK TIM DEBUTAN

Tapi, realitas yang harus dihadapi dari konsekuensi memakan buah simalakama ini harus dihadapi secara gentle dengan melakukan perlawanan total, atau menyerah kalah secara bongko’an tanpa syarat. Bisa saja pasrah memilih mengikuti arus ke mana arah air bah yang akan menghanyutkan, yang penting toh, bisa tetap selamat, seperti ketika tambeng untuk melakukan kejahatan yang telah merugikan banyak orang.

Baca Juga  CATATAN RINGAN : SEMI FINAL PILDUN 2026 ARGENTINA VS INGGRIS FINAL DINI SARAT SENSASI

Dalam kondisi tersandra inilah, orang baru bisa memahami betapa indahnya suasana kebebasan dan kemerdekaan yang mampu dikendalikan karena memahami adanya konsekuensi logis dari perbuatan yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akherat. Karena tanggung jawab itu tak hanya dihadapan hukum positif (negara) tapi juga hukum Tuhan Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *