Jadi masalah silang saling Sandra menyandera ini pun bisa terjadi timbal balik — sama-sama tersandera dan menyandera. Ketika posisinya demikian adanya, pilihan terbaik — jika masih bisa menahan ego — kedua pihak bisa melakukan kerja sama, saling melindungi atau bahkan saling menetas, maka itu berbagai upaya mencari titik temu dari berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, mulai dari kesepakatan untuk saling melindungi, hingga kemungkinan melakukan kolaborasi semacam asosiasi kecil untuk sesuatu hal yang besar, karena menyangkut masa depan yang bisa ambruk bersama seluruh dinasti yang sudah dibangun dengan susah payah. Karena itu, perang tanding pun — semacam kondisi Perang di Padang Kurusetra — seperti yang bisa disaksikan terjadi di negeri kita hari ini.
Esensinya, perang antara perang antara Pendawa vs Kurawa simbolika dari kebenaran dan kebatilan. Terbunuhnya Duryudana dan Dursasana, sebagai simbolik dari kejahatan.
Sebab mitos yang ada dan hidup dalam keluarga Kurawa, ego, serakah dan iri dengki. Seperti Karna, anaknya Kanti, kakaknya Pandawa yang seria kepada Duryudana, salah memilih dengan berkubu pada Kurawa berhutang budi dan menjadi loyalis yang buta hatinya. Begitu juga Bhisma dan Drona yang terbilang tua, tapi mingkem tidak bersuara seperti penikmat media sosial yang tak berbicara dan tidak juga bereaksi memberikan komentar. Tentu saja ada andilnya Sengkuni yang licik dan culas, manipulatif serta mempraktekkan politik kotor yang suka kasak-kusuk merusak martabat Pandawa maupun Kurawa.









Komentar