“Sepak bola adalah perpaduan antara pragmatisme — harus menang – dengan permainan yang menampilkan keindahan”
Pagi tadi jantung fans Brazil sempat copot. Laga kontra Haiti mengingatkan kita pada “trauma Maroko” , Brazil yang kelihatan indah tapi kosong, meliuk tanpa arah, lalu berakhir imbang hambar. Jogo bonito versi nostalgia yang enak ditonton, tapi rapuh saat ditekan.
Tapi peluit babak pertama selesai, skor 3-0. Peluit akhir, Celecao tetap pesta. Dan yang muncul bukan Brazil lama. Ini Brazil versi Aceloti ala Eropa,
1. Mati Gaya Lawan Maroko, Lahir Kembali Lawan Haiti
Melawan Maroko, Brazil masih mabuk “samba individual”. Vinícius Junior, Paqueta, Raphinha, semua mau jadi pahlawan sendiri. Dribble 5 orang, hilang bola, serangan putus. Hasilnya: mandul.
Pagi tadi beda cerita. Di bawah polesan dan komando Carlo Ancelotti, Brazil berubah jadi mesin. Tim-centris, bukan bintang-centris. Gerakan tanpa bola rapi, transisi cepat, dan yang paling fatal buat Haiti: one touch football. Bola mampir sekali, langsung jalan. Tidak ada meliuk 3 detik buat gaya-gayaan. Efeknya? Pemain Haiti yang bertenaga itu kelimpungan. Lari mengejar bayangan.
Tiga gol di babak pertama bukan karena kebetulan. Itu hasil latihan, disiplin, dan mental kolektif ala Liga Champions yang Ancelotti bawa dari Madrid. Samba tetap ada, tapi sekarang samba yang diorkestrasi. Indah + efektif.







Komentar