oleh

ORANGE: SEBUAH FRAGMEN TENTANG WAKTU DAN KEINDAHAN


Mengapa Kita Tetap Mengingat Mereka?

Oleh: M. Guntur Alting

Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang sepakbola Belanda dan para legenda pemainnya, mari baca narasinya..”

BAGAIMANA mungkin sebuah bangsa yang selalu gagal dalam ajang “Piala Dunia” justru menjadi “arsitek” yang paling banyak mengubah cara kita memahami sepakbola?

Belanda adalah anomali yang paling “romantis” dalam sejarah olahraga. Mereka tidak mengejar kemenangan dengan cara-cara yang mekanis, melainkan dengan “improvisasi” yang puitis.

Baca Juga  LANGIT-LANGIT MUHARRAM - Hijrah: Jalan Sunyi Menuju Kemanusian

Mungkin kita lupa bahwa sepakbola pada mulanya, ia adalah “permainan. Dan dalam setiap permainan yang agung, selalu ada ruang bagi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hasil akhir: sebuah estetika yang melampaui waktu.

​Jika musik adalah keteraturan yang dipinjam dari alam untuk merayakan kemanusiaan, maka sepakbola Belanda adalah musik yang menjelma wujud.

Baca Juga  Catatan Om Pala : Presiden, Konstitusi, Nusantara Satu Harga, dan KMP

Ia adalah oranye yang bergerak di atas hamparan rumput, sebuah simfoni yang bukan tentang menaklukkan, melainkan tentang menjelaskan keindahan.

–000–

Sang Komposer dan Hukum yang Baru

​Johan Cruyff. Nama itu bukan sekadar penanda seorang atlet. Ia adalah awal dari sebuah “episteme.” Saat ia melakukan putaran tubuhnya—yang kelak disebut dunia sebagai “Cruyff Turn”—ia sedang melakukan pembebasan.

Baca Juga  Kemesraan Filsafat dan Spiritual: Dua Jalur Menuju Kebenaran yang Saling Menopang

Ia tidak sekadar melewati lawan; ia sedang membebaskan bola dari kungkungan taktik yang kaku.

​Dalam gerak itu, kita melihat bahwa sepakbola adalah ruang improvisasi. Cruyff menunjukkan bahwa di lapangan, kecerdasan bukanlah sekadar fungsi dari kecepatan, melainkan kemampuan untuk melihat kemungkinan di tempat yang dianggap kosong oleh orang lain.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *