oleh

Wali Kota Teladan di Ujung Pulau


Tidore seperti rumah kedamaian bagi siapa saja yang datang, menyapa Tidore dari Pelabuhan Rum hingga kawasan Indonesiana, pulau ini menyambut tamunya tanpa kegaduhan. Gunung, laut, kampung, dan sejarah seolah bertasbih dalam bahasa yang sama dari kesantunan. Warganya menyapa dengan akrab, hidup dalam ritme yang tenang, tetapi menyimpan ingatan panjang tentang sebuah pulau yang pernah ikut menentukan arah sejarah peradaban global.

Di tempat seperti itulah kepemimpinan memperoleh makna yang berbeda. Pemimpin tidak cukup hanya hadir melalui baliho, pidato, atau angka-angka anggaran. Pemimpin harus terasa dalam kehidupan sehari-hari, dari jalan yang dapat dilalui, perahu yang tetap beroperasi, sekolah yang melayani anak pulau, puskesmas yang menjangkau warga, pasar yang hidup, petani dan nelayan yang memperoleh ruang, serta pemerintahan yang tidak membuat rakyat merasa berjarak.

Baca Juga  Ada Baiknya Para Koruptor Dijadikan Penghuni Sekaligus Penjaga di Pulau Kosong Agar Dapat Memberi Efek Jera

Dari lingkungan rakyat biasa, lahirlah Muhammad Sinen, yang oleh warga akrab disapa Ayah Erik, bukan keturunan bangsawan, bukan ofa, bukan pula putra istana. Ia tumbuh dari kehidupan masyarakat kebanyakan dan kemudian dipercaya rakyat melalui jalur politik kerakyatan, yang menjadi  kekuatan simboliknya.

Demokrasi menemukan wajah terbaiknya ketika seorang yang berangkat dari bawah dapat berdiri sebagai wali kota tanpa tercerabut dari akar sosialnya. Kepemimpinan semacam ini mengingatkan bahwa jabatan publik bukan warisan darah, melainkan amanah rakyat.

Baca Juga  Kemana Anies Baswedan?

Dari Mesin Kapal ke Ruang Pemerintahan
Muhammad Sinen tercatat sebagai wali kota dengan latar pendidikan STM Negeri Ternate. Pengalaman awalnya sebagai masinis dalam layanan transportasi laut di Pelabuhan Rum membentuk relasi yang sangat dekat dengan kehidupan kepulauan. Bagi orang daratan, laut mungkin hanya dipandang sebagai batas. Bagi masyarakat Tidore, laut adalah jalan raya, ruang kerja, sumber penghidupan, sekaligus penghubung keluarga dan pelayanan publik.

Seorang masinis memahami bahwa perjalanan tidak selalu berlangsung dalam cuaca tenang. Mesin harus dirawat, arah harus dijaga, penumpang harus diantar sampai tujuan, dan keputusan kadang harus diambil ketika gelombang tidak bersahabat. Pengalaman itu tampaknya ikut membentuk watak kepemimpinannya, tidak banyak kemewahan dalam tutur, tetapi kuat dalam menghadapi tekanan.
Dari membawa penumpang antarpulau menuju tujuan, ayah erik kemudian memperoleh tanggung jawab yang jauh lebih besar membawa Kota Tidore Kepulauan menuju tujuan pembangunan.
Karena itu, kisah Ayah Erik bukan sekadar kisah mobilitas politik. Ini adalah perjalanan sosial dari ruang pelayanan transportasi rakyat menuju ruang pelayanan pemerintahan. Kapalnya berganti menjadi birokrasi, penumpangnya menjadi lebih dari seratus ribu warga, sedangkan gelombangnya kini bernama keterbatasan fiskal, ketimpangan antarwilayah, biaya logistik, kualitas pelayanan dasar, dan tuntutan kemajuan.

Baca Juga  Catatan ringan Muslim Arbi : MENGGOYANG PRABOWO

Memimpin Kota yang Tidak Tunggal

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *