oleh

Korupsilah Yang Banyak Biar Bisa Enak Menjalani Hukuman Hingga Saat Bebas Bisa Menikmati Sisa Duit Yang Masih Tersisa

-Artikel/Opini-1184 Dilihat

Begitulah, nilai materi telah menjadi standar ukuran sukses dalam kondisi masyarakat yang terlanjur basah kuyup dalam budaya materialistik yang lahir dan dibiakkan oleh kapitalisme global akibat dari keoknya sosialisme dalam pertarungan hingga merontokkan juga benteng agama yang sangat terkesan tidak lagi berdaya.

Yang gawat, justru topeng dan jubah agama menjadi semacam helm pelindung yang menjamin pengendara yang ugal-ugalan itu tidak melanggar rambu lalu lintas yang sudah menjadi kesepakatan bersama agar tidak dilabrak. Dan budaya korupsi di Indonesia seperti telah menjadi pekerjaan baru, baik bagi pelakunya sendiri maupun bagi petugas yang harus melakukan pengawasan dan pencegahan serta melakukan upaya pemberantasan yang semakin meningkat dan cenderung massif sampai gaya dan model sogok menyogok dari cara menilep dana proyek pemerintah semakin canggih dan piawai dengan nilai yang tidak alang kepalang gedenya.

Baca Juga  Ketika Kepercayaan Menjadi Modal Pembangunan: Membaca Warisan Galasi dalam Transformasi Sosial Ekonomi Kota Tidore Kepulauan

Sementara dibilik lain, desakan publik untuk merampas aset para koruptor seperti sedang dilakukan tawar menawar dalam pembahasannya yang sudah dibuat ribut sejak beberapa tahun silam hingga sampai sekarang belum juga jelas juntrungannya. Sehingga cukup kuat diduga dalam pembahasan RUU Perampasan Asset terhadap mereka yang melakukan korupsi tidak cuma sekedar patut diduga, tapi juga sangat mungkin diantara pembahas dari RUU tersebut juga dalam posisi yang juga sudah tersandera.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *