—————————————————————————————-————-
Oleh: Dr. Muhammad Kamal, SE., M.Si.
Pembangunan daerah sering kali dibicarakan melalui besarnya APBD, investasi, infrastruktur, dan kekayaan sumber daya alam. Keberhasilan kemudian diukur dari pertumbuhan ekonomi, pembangunan fasilitas publik, dan meningkatnya aktivitas produksi. Namun, terdapat satu kekuatan pembangunan yang kerap luput dari perhatian, yakni kemampuan masyarakat mengorganisasi sumber daya melalui kepercayaan, solidaritas, dan kerja kolektif. Pengalaman Galasi dalam sejarah masyarakat petani Tidore memperlihatkan bahwa perubahan sosial ekonomi tidak selalu bermula dari intervensi modal besar. Dalam kondisi keterbatasan uang dan teknologi, masyarakat justru mampu menciptakan kelembagaan yang mengubah hubungan sosial menjadi kekuatan produktif. Warisan tersebut penting dibaca kembali untuk memahami fondasi pembangunan Kota Tidore Kepulauan.
Galasi merupakan komunitas kerja kolektif petani yang pernah berkembang terutama di Kelurahan Cobodoe dan Kelurahan Dowora Kota Tidore Kepulauan, dengan aktivitas yang menjangkau Lembah Fura, Lagudi, Tuko, Gohi, kawasan sekitar Kalaodi, dan wilayah pesisir. Berdasarkan ingatan masyarakat yang dihimpun dalam naskah sejarah lokal, praktik ini berkembang sejak sekitar akhir 1970-an dan sebagian kelompok diperkirakan masih aktif hingga awal 2000-an. Galasi lahir ketika tidak semua keluarga mempunyai kemampuan membayar tenaga kerja untuk mengelola kebun. Masyarakat kemudian membangun sistem pertukaran tenaga berdasarkan kesepakatan bersama. Setiap anggota berkewajiban membantu pekerjaan anggota lain dan pada gilirannya memperoleh bantuan serupa. Dengan demikian, Galasi merupakan institusi sosial ekonomi yang tumbuh dari kebutuhan nyata masyarakat.
Keunikan Galasi terletak pada penggunaan jam pasir sebagai instrumen pembagian waktu kerja. Alat sederhana tersebut dibuat dari dua botol kaca bening berukuran sama yang disambungkan pada bagian mulutnya, dengan pembatas seng berlubang kecil sebagai jalur perpindahan pasir. Ketika pasir berpindah dari botol atas menuju botol bawah, satu satuan waktu kerja dianggap selesai. Alat kemudian dibalik untuk memulai satuan waktu berikutnya. Teknologi sederhana ini menjadikan kontribusi tenaga dapat diamati dan diukur berdasarkan aturan yang dipahami bersama. Jam pasir bukan sekadar alat penunjuk waktu, melainkan instrumen yang membantu komunitas menjaga keteraturan, disiplin, dan keadilan dalam bekerja.
Menurut keterangan historis dalam naskah Galasi, anggota biasa memperoleh kewajiban empat botol waktu, sedangkan ketua dan tetua adat atau penanggung jawab spiritual memperoleh lima botol karena memikul tanggung jawab tambahan. Ketua mengatur giliran kerja dan menjaga keterlibatan anggota, sementara tetua membantu memelihara etika serta menyelesaikan persoalan kelompok. Pengaturan tersebut memperlihatkan adanya struktur kepemimpinan dan pembagian tanggung jawab yang diterima secara sosial. Setiap keluarga mengetahui kapan harus memberikan tenaga dan kapan berhak memperoleh bantuan. Hubungan timbal balik inilah yang membentuk dasar keberlangsungan Galasi. Kekuatan organisasi tidak terutama berasal dari kontrak tertulis, tetapi dari kepercayaan terhadap aturan yang dijalankan bersama.
Dari perspektif Ekonomi Pembangunan, Galasi menunjukkan bahwa keterbatasan modal finansial tidak selalu berarti ketiadaan kapasitas ekonomi masyarakat. Rumah tangga petani yang tidak memiliki cukup uang untuk membayar buruh tetap dapat mengakses tenaga kerja melalui pertukaran kontribusi antaranggota. Sistem tersebut memungkinkan pekerjaan pembukaan lahan, pembersihan kebun, pemeliharaan tanaman, dan kegiatan panen dilaksanakan secara lebih terorganisasi. Biaya tunai yang sebelumnya berpotensi dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dapat dialihkan kepada kebutuhan produksi atau rumah tangga. Keuntungan ekonomi Galasi dengan demikian tidak hanya terletak pada tersedianya tenaga, tetapi juga pada kemampuannya mengurangi hambatan likuiditas petani. Modal sosial bekerja sebagai sumber daya produktif ketika hubungan antarwarga mampu mengatasi keterbatasan pasar tenaga kerja dan pembiayaan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat dapat dimulai dari penguatan kapasitas kolektif yang telah hidup di lingkungan lokal.
Efisiensi Galasi juga lahir dari kemampuannya mengurangi biaya koordinasi. Dalam pertanian yang dikerjakan secara individual, setiap keluarga harus mencari pekerja, menyepakati waktu, mengawasi pekerjaan, dan menanggung risiko ketidakhadiran tenaga kerja. Galasi menyederhanakan proses tersebut melalui keanggotaan, pembagian giliran, kepemimpinan, dan ukuran kontribusi yang disepakati. Jam pasir membantu anggota mengetahui kapan suatu kewajiban dimulai dan diselesaikan tanpa membutuhkan sistem pengawasan yang rumit. Transparansi tersebut memperkecil ruang perselisihan mengenai perbedaan waktu kerja. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kepatuhan anggota dan kemampuan pemimpin menjaga keadilan. Dengan demikian, kepercayaan dalam Galasi bukan hubungan sosial yang abstrak, melainkan mekanisme yang memungkinkan kegiatan produksi berlangsung dengan biaya koordinasi lebih rendah. Di sinilah modal sosial memperoleh makna ekonomi yang konkret.
Robert D. Putnam (1993), melalui Making Democracy Work, menjelaskan bahwa jaringan keterlibatan warga, norma timbal balik, dan kepercayaan dapat memperkuat kemampuan masyarakat melakukan tindakan kolektif serta mendukung efektivitas institusi. Pemikiran tersebut memberikan landasan untuk membaca Galasi sebagai bentuk modal sosial produktif. Anggota tidak hanya saling mengenal, tetapi terikat oleh kewajiban memberikan kontribusi yang dapat diamati dan diharapkan akan dibalas melalui mekanisme kelompok. Kepercayaan mempermudah koordinasi, sedangkan norma timbal balik menjaga kesinambungan partisipasi. Jam pasir dan pembagian giliran kemudian menerjemahkan nilai sosial tersebut menjadi aturan kerja yang dapat dijalankan. Galasi memperlihatkan bahwa solidaritas menjadi kekuatan pembangunan ketika didukung oleh institusi yang menghubungkan hak, kewajiban, dan kepentingan bersama. Tanpa pengorganisasian tersebut, hubungan sosial yang kuat belum tentu menghasilkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
Kontribusi Galasi terhadap produktivitas dapat ditelusuri melalui pengelolaan kebun tanaman tahunan yang menjadi sumber nafkah keluarga. Naskah sejarah lokal mencatat bahwa anggota mengelola tanaman seperti cengkih, pala, kelapa, durian, mangga, dan komoditas lainnya. Jenis tanaman tersebut membutuhkan pemeliharaan berulang, sementara kebutuhan tenaga dapat meningkat pada masa pembersihan kebun dan panen. Kerja kolektif membantu keluarga menyelesaikan pekerjaan yang sulit dilakukan hanya dengan tenaga anggota rumah tangga sendiri. Ketersediaan bantuan pada waktu yang dibutuhkan juga berpotensi mengurangi keterlambatan pemeliharaan dan kehilangan kesempatan panen. Akan tetapi, kontribusi Galasi terhadap kenaikan produktivitas belum dapat dinyatakan dalam angka tanpa data pembanding mengenai hasil kebun sebelum dan selama keanggotaan. Yang dapat dipahami dari pengalaman ini ialah adanya mekanisme kelembagaan yang membantu petani menjaga keberlangsungan kegiatan produksi.
Manfaat tersebut memiliki dimensi pemerataan kesempatan yang penting. Dalam ekonomi pertanian, keluarga dengan jumlah pekerja sedikit dapat menghadapi hambatan pengelolaan kebun meskipun mempunyai lahan produktif. Sebaliknya, keluarga yang memiliki kemampuan membayar tenaga upahan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih mudah. Galasi menyediakan mekanisme yang memungkinkan anggota memperoleh bantuan melalui kontribusi waktu, bukan semata kemampuan membayar uang. Dengan demikian, sistem ini memperluas akses terhadap sumber daya tenaga kerja bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan likuiditas. Kesetaraan yang dibangun bukan berarti setiap rumah tangga mempunyai luas lahan, hasil panen, atau pendapatan yang sama. Kesetaraan terutama terletak pada adanya kesempatan memperoleh bantuan berdasarkan aturan bersama. Prinsip tersebut relevan bagi pembangunan inklusif karena menunjukkan bahwa kelembagaan komunitas dapat mengurangi sebagian hambatan ekonomi tanpa harus menghapus seluruh perbedaan kepemilikan sumber daya.
Galasi juga mempunyai fungsi perlindungan sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan produksinya. Ketika sebuah keluarga menghadapi keterbatasan tenaga, anggota kelompok dapat memberikan dukungan melalui kerja bersama. Bantuan tersebut tidak selalu membutuhkan pembayaran tunai karena berlangsung dalam hubungan timbal balik yang telah dibangun sebelumnya. Bagi rumah tangga dengan pendapatan musiman, ketersediaan jaringan bantuan dapat mengurangi tekanan ketika pekerjaan kebun harus segera diselesaikan. Dengan demikian, komunitas berfungsi sebagai mekanisme berbagi risiko dalam batas kemampuan anggotanya. Fungsi ini menjadi penting terutama ketika akses terhadap pembiayaan formal dan perlindungan ekonomi masih terbatas. Namun, kekuatan jaringan semacam itu juga mempunyai batas ketika seluruh anggota menghadapi guncangan secara bersamaan. Oleh karena itu, modal sosial perlu dipahami sebagai pelengkap, bukan pengganti, kebijakan perlindungan sosial dan pelayanan publik.
Dimensi pembangunan yang lebih jauh terlihat pada penggunaan hasil kebun untuk membangun aset rumah tangga. Naskah Galasi menggambarkan pengalaman sebagian keluarga yang kemudian mampu membangun rumah permanen menggunakan pendapatan dari kegiatan pertanian. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas produksi dapat menjadi sumber akumulasi aset keluarga dalam jangka panjang. Galasi berperan tidak langsung melalui dukungan tenaga yang membantu menjaga kegiatan pengelolaan kebun. Akan tetapi, keberhasilan ekonomi tersebut juga dipengaruhi luas lahan, jumlah tanaman, harga komoditas, kemampuan keluarga mengelola pendapatan, dan berbagai faktor lainnya. Karena itu, pembangunan rumah tidak dapat sepenuhnya diatribusikan kepada keanggotaan Galasi. Nilai penting pengalaman tersebut justru terletak pada keterkaitan antara organisasi kerja masyarakat, keberlanjutan sumber nafkah, dan kesempatan memperbaiki kondisi material keluarga. Hubungan inilah yang perlu dikaji lebih lanjut dalam perspektif transformasi sosial ekonomi.
Kontribusi Galasi juga dapat dibaca melalui pendidikan anak-anak keluarga petani. Dalam naskah sejarah lokal dijelaskan bahwa sebagian pendapatan hasil kebun digunakan untuk membiayai pendidikan, termasuk pendidikan hingga perguruan tinggi. Sejumlah anak dari keluarga anggota kemudian memasuki pekerjaan sebagai guru, pegawai, pelaku usaha, dan berbagai profesi lainnya. Pengalaman ini menggambarkan jalur perubahan sosial yang menghubungkan aktivitas pertanian generasi orang tua dengan kesempatan ekonomi generasi berikutnya. Kerja kolektif membantu mempertahankan kegiatan produktif keluarga, sedangkan pendapatan yang diperoleh dapat digunakan untuk investasi pendidikan. Pendidikan kemudian membuka pilihan pekerjaan yang lebih beragam dibandingkan ketergantungan pada kebun semata. Dengan demikian, modal sosial berpotensi menjadi salah satu unsur pendukung pembentukan modal manusia. Namun, besarnya kontribusi tersebut tetap memerlukan pengujian empiris agar tidak mengabaikan pengaruh sekolah, kebijakan publik, kondisi keluarga, dan perkembangan ekonomi pada masa yang sama.
Pierre Bourdieu (1986), melalui The Forms of Capital, menjelaskan bahwa modal sosial berkaitan dengan sumber daya aktual maupun potensial yang dapat diakses seseorang melalui jaringan hubungan yang relatif bertahan lama. Perspektif ini membantu memahami Galasi sebagai jaringan yang memungkinkan anggota memperoleh akses terhadap tenaga, informasi, dukungan, dan kesempatan ekonomi. Keanggotaan komunitas bukan sekadar identitas sosial karena hubungan tersebut menyediakan manfaat yang dapat digunakan dalam kehidupan produktif. Dalam pengalaman keluarga Galasi, dukungan kerja kolektif berpotensi membantu menjaga sumber pendapatan yang kemudian digunakan untuk membangun aset dan membiayai pendidikan anak. Proses tersebut dapat dibaca sebagai kemungkinan konversi modal sosial menjadi modal ekonomi dan modal manusia. Namun, Bourdieu juga mengingatkan pentingnya memperhatikan perbedaan akses terhadap sumber daya dalam jaringan sosial. Karena itu, kajian Galasi perlu meneliti siapa yang memperoleh manfaat terbesar, siapa yang menghadapi hambatan keanggotaan, dan bagaimana perbedaan kepemilikan lahan memengaruhi hasil ekonomi keluarga.
Persoalan distribusi manfaat menjadi penting agar modal sosial tidak dibahas secara romantis. Kepercayaan dan solidaritas memang dapat memperkuat kerja kolektif, tetapi keberadaan kelompok tidak otomatis menghilangkan ketimpangan ekonomi antaranggota. Keluarga dengan kebun lebih luas, tanaman lebih produktif, atau akses pasar lebih baik mungkin memperoleh hasil yang berbeda meskipun mempunyai hak bantuan tenaga berdasarkan aturan yang sama. Kepemimpinan lokal juga perlu dijalankan secara transparan agar pembagian giliran tidak menciptakan perlakuan istimewa. Selain itu, jaringan sosial yang terlalu tertutup berpotensi membatasi keterlibatan warga di luar kelompok. Karena itu, pelajaran Galasi bagi pembangunan modern bukan hanya mempertahankan solidaritas internal, melainkan memperluas keterbukaan dan akuntabilitas organisasi. Modal sosial akan memiliki manfaat pembangunan yang lebih luas ketika kepercayaan di dalam komunitas dihubungkan dengan kesempatan ekonomi bagi masyarakat yang lebih beragam.
Perubahan struktur ekonomi kemudian menghadirkan tantangan terhadap keberlanjutan Galasi. Naskah mencatat bahwa penggunaan tenaga kerja upahan semakin berkembang, sementara generasi muda mulai memasuki pendidikan, pekerjaan formal, perdagangan, dan aktivitas ekonomi di luar kebun. Perubahan tersebut mengurangi ketersediaan waktu untuk menjalankan sistem pertukaran tenaga secara bergilir. Hubungan produksi yang sebelumnya banyak bertumpu pada kewajiban sosial perlahan bergeser menuju transaksi menggunakan uang. Modernisasi ini tidak dapat langsung dinilai sebagai kemunduran karena masyarakat juga memperoleh pilihan pekerjaan dan sumber pendapatan baru. Namun, perubahan tersebut dapat mengurangi intensitas hubungan produktif yang sebelumnya menopang kerja kolektif. Tantangannya adalah memastikan kemajuan ekonomi tidak diikuti hilangnya seluruh kapasitas masyarakat untuk saling membantu dan mengorganisasi kepentingan bersama.
Dari perspektif pembangunan Kota Tidore Kepulauan, pengalaman tersebut menuntut perubahan cara memahami pemberdayaan masyarakat. Program pembangunan tidak cukup hanya menyediakan bantuan modal, alat produksi, fasilitas fisik, atau membentuk kelompok baru secara administratif. Keberhasilan organisasi ekonomi juga membutuhkan kepercayaan antaranggota, kepemimpinan yang diterima, pembagian kewajiban yang jelas, dan mekanisme pengawasan yang transparan. Nilai tersebut pernah dipraktikkan melalui Galasi dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masanya. Pemerintah daerah dapat menjadikannya sumber pembelajaran untuk memperkuat kelompok tani, koperasi, usaha bersama, dan kelembagaan ekonomi kelurahan. Tujuannya bukan mengembalikan masyarakat pada sistem pertanian tradisional, melainkan menerjemahkan prinsip kerja kolektif ke dalam organisasi ekonomi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan pasar. Dengan demikian, pengetahuan lokal memperoleh fungsi baru sebagai sumber inovasi kelembagaan.
Penerjemahan tersebut dapat dimulai dari penguatan organisasi ekonomi masyarakat di tingkat kelurahan. Kelompok tani dapat mengembangkan penggunaan alat secara bersama, pembelian input secara kolektif, penjadwalan pekerjaan, dan pemasaran hasil kebun melalui mekanisme yang transparan. Koperasi dapat membangun sistem pencatatan kontribusi, pembagian manfaat, serta pengawasan yang dipahami seluruh anggota. Kelompok pemuda juga dapat dilibatkan dalam pengembangan teknologi digital, dokumentasi produksi, dan usaha berbasis komunitas. Prinsip Galasi tentang timbal balik tidak harus dipertahankan dalam bentuk pertukaran tenaga yang sama persis dengan masa lalu. Nilai dasarnya dapat dikembangkan menjadi kerja sama ekonomi yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat sekarang.
Namun, pemanfaatan warisan Galasi membutuhkan dokumentasi sejarah yang lebih sistematis. Informasi mengenai jumlah kelompok, periode perkembangan, anggota, lokasi kerja, dan dampak sosial ekonominya sebagian besar masih bersumber dari ingatan masyarakat. Pemerintah Kota Tidore Kepulauan bersama perguruan tinggi dan komunitas lokal dapat memfasilitasi penelitian sejarah lisan, pengumpulan arsip keluarga, serta dokumentasi alat dan aturan kerja. Wawancara dengan mantan anggota maupun keluarga mereka perlu dibandingkan agar menghasilkan rekonstruksi yang lebih dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian juga dapat menelusuri hubungan antara keanggotaan Galasi, pengelolaan kebun, pendidikan anak, dan perubahan aset rumah tangga. Dengan demikian, pengalaman lokal tidak berhenti sebagai cerita budaya, tetapi berkembang menjadi sumber pengetahuan empiris bagi pembangunan daerah.
Pembangunan berbasis modal sosial juga membutuhkan hubungan yang sehat antara inisiatif masyarakat dan dukungan pemerintah. Negara tidak perlu mengambil alih seluruh aktivitas kolektif yang sebelumnya tumbuh secara mandiri, tetapi dapat memperkuat kemampuan organisasi masyarakat melalui pelatihan, pendampingan, akses pasar, pembiayaan, dan infrastruktur. Intervensi yang terlalu dominan berisiko membuat organisasi bergantung pada bantuan, sementara intervensi yang terlalu terbatas dapat membiarkan kelompok menghadapi hambatan ekonomi yang tidak mampu diselesaikan sendiri. Karena itu, peran pemerintah perlu diarahkan untuk memperluas kapasitas masyarakat dalam mengambil keputusan dan mengelola kegiatan produktif. Pembangunan menjadi lebih bermakna ketika masyarakat tidak hanya diposisikan sebagai penerima program, tetapi sebagai pelaku yang ikut menentukan arah perubahan ekonominya.
Warisan Galasi memberikan pelajaran bahwa pembangunan Kota Tidore Kepulauan tidak hanya bertumpu pada besarnya anggaran, investasi, infrastruktur, dan sumber daya alam. Di dalam kehidupan masyarakat terdapat modal sosial yang dapat menghubungkan kepercayaan dengan tindakan kolektif, tindakan kolektif dengan kegiatan produktif, serta kegiatan produktif dengan peluang peningkatan kesejahteraan keluarga. Galasi menunjukkan bagaimana petani pernah membangun sistem pertukaran tenaga melalui aturan yang disepakati, kepemimpinan lokal, dan penggunaan jam pasir sebagai instrumen pembagian waktu yang terbuka. Pengalaman tersebut membantu menjelaskan bahwa hubungan sosial dapat mempunyai manfaat ekonomi ketika dikelola melalui kelembagaan yang dipercaya masyarakat. Sebagian keluarga anggota kemudian menggunakan hasil kebun untuk membangun aset dan membiayai pendidikan anak, meskipun besarnya kontribusi langsung Galasi masih membutuhkan pembuktian empiris. Karena itu, warisan ini tidak perlu dibesar-besarkan sebagai jawaban atas seluruh persoalan pembangunan, tetapi juga tidak seharusnya diabaikan sebagai sekadar tradisi masa lalu. Pemerintah Kota Tidore Kepulauan perlu melihatnya sebagai sumber pembelajaran bagi penguatan koperasi, kelompok tani, usaha kolektif, kepemimpinan komunitas, dan pemberdayaan generasi muda. Dokumentasi sejarah harus berjalan bersama pembaruan kelembagaan agar nilai kepercayaan, timbal balik, disiplin, dan keadilan tetap relevan dalam kehidupan ekonomi modern. Tantangan pembangunan bukan menghidupkan kembali seluruh bentuk Galasi sebagaimana dahulu, melainkan mengembangkan kemampuan masyarakat mengubah solidaritas menjadi produktivitas dan produktivitas menjadi kesempatan sosial ekonomi yang lebih luas. Sebab, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan modal yang masuk dari luar daerah, tetapi juga kemampuan masyarakat mengorganisasi kekuatan yang telah tumbuh dari dalam dirinya sendiri.
Pustaka
Putnam, R. D. (1993). Making democracy work: Civic traditions in modern Italy. Princeton University Press.
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. Dalam J. G. Richardson (Ed.), Handbook of theory and research for the sociology of education (hlm. 241–258). Greenwood Press.









Komentar