Setiap menjelang hari besar keagamaan atau perayaan institusional, kita akan menjumpai pemandangan serupa: deretan anak-anak berseragam, duduk bersimpuh di hadapan kamera, menerima bingkisan yang diserahkan dengan gestur kaku oleh para pemberi sumbangan.
Secara sosiologis, pemandangan ini bukan sekadar aktivitas filantropi, melainkan sebuah pertunjukan simbolik di mana “anak yatim” perlahan bergeser posisi dari subjek yang memerlukan empati menjadi komoditas untuk kepentingan citra.
–000–
Fetisisme Kedermawanan dan Objektifikasi
Jika kita menggunakan kacamata Karl Marx mengenai fetisisme komoditas, kita dapat melihat adanya pergeseran nilai dalam praktik kedermawanan kontemporer.
Dalam seremoni formalitas, hubungan antara pemberi dan penerima bantuan sering kali tereduksi menjadi hubungan transaksional yang dangkal.
Anak yatim tidak lagi dilihat sebagai individu dengan kompleksitas psikologis dan hak atas privasi, melainkan sebagai “aset simbolik” yang digunakan untuk memvalidasi moralitas sang pemberi.
Dalam konteks ini, kemiskinan dan ketidakberuntungan anak yatim dikemas sedemikian rupa agar menjadi konsumsi publik yang estetis bagi media sosial.
Ada sebuah fetisisme di sini: publik tidak sedang menikmati tindakan kedermawanan itu sendiri, melainkan menikmati performa kedermawanan yang dipanggungkan.
Anak yatim menjadi “latar” agar sang donor terlihat dermawan, berkuasa, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
–000–
Dramaturgi dalam Panggung Santunan
Erving Goffman dalam teori dramaturginya membagi kehidupan menjadi panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).












Komentar