Ketegangan di Selat Hormuz atau serangan udara di Teheran bukan lagi sekadar berita luar negeri yang jauh; ia telah hadir di meja makan kita dalam bentuk bayang-bayang krisis energi dan inflasi yang mengancam stabilitas ekonomi rumah tangga.
Di sinilah letak ironi spiritualitas modern: kita mencoba menarik diri dari urusan dunia untuk mendekat kepada Tuhan, namun risiko global justru menarik kita kembali ke pusat pusaran konflik melalui ketergantungan sistemik yang tak terelakkan.
Suasana kebatinan kita saat ini mencerminkan apa yang disebut Beck sebagai “Ketidakpastian yang Terorganisir”.
Kita menyaksikan institusi internasional yang seharusnya menjaga perdamaian tampak lumpuh, sementara kekuatan besar bermain dengan “api” teknologi militer yang dampaknya bisa melenyapkan peradaban.
Rasa “ngilu” yang muncul saat kita mendengar retorika perang di tengah zikir adalah sinyal bahwa nalar kemanusiaan kita menyadari betapa rapuhnya kendali manusia atas ciptaannya sendiri.
Senjata nuklir dan siber bukan lagi instrumen pertahanan, melainkan risiko eksistensial yang “mendemokrasikan” rasa takut. Baik mereka yang berada di Washington, Teheran, maupun Jakarta, kini berbagi kecemasan yang sama di bawah langit Ramadhan yang sama.
–000–
Namun, di tengah kepungan risiko ini, ibadah puasa menawarkan sebuah diskursus baru. Jika dunia politik terjebak dalam logika kehancuran, puasa menjadi sebuah sub-politik—sebuah tindakan individu yang menolak ikut dalam kegilaan massa.
Menahan lapar dan dahaga di tengah dunia yang lapar akan kekuasaan adalah bentuk protes eksistensial.







Komentar