- Menelaah Transformasi Tarwih dari 23 Ke -11Rakaat.
Oleh : M.Guntur Alting
–
Sang lelaki tua itu masih ingat, bagaimana bunyi dari lantai kayu masjid puluhan tahun silam.
Saat itu, ia adalah bocah yang berlari di sela-sela sarung orang dewasa, sembari menebak-nebak di rakaat ke berapa, ia boleh menyerah dan tertidur di pojok pilar.
Baginya, Ramadan adalah sebuah maraton yang megah—23 rakaat yang terasa seperti perjalanan menuju puncak gunung yang jauh, namun entah mengapa, selalu berhasil ia daki.
Waktu berlalu, dan musim pun berganti rupa. Kini, ia berdiri di ambang pintu masjid yang sama, namun dengan suasana yang telah berbeda.
Di depannya, jamaah terbagi dalam dua irama. Ada masjid yang lampunya padam lebih awal setelah sebelas rakaat yang syahdu.
Ada pula yang tetap setia dengan derap langkah lama, mengejar fajar dengan punggung yang kuat dalam puluhan sujud.
Ia sempat terdiam di ambang pintu, melihat perbedaan itu sebagai sebuah jarak. Namun, saat melihat seorang pemuda menangis di rakaat kedelapan.Dan seorang kakek tersenyum tulus di rakaat kedua puluh.
Ia sadar, Tuhan tidak sedang menghitung angka di atas kalkulator. Dia sedang melihat hati yang luruh.
–000–
Dalam diskursus keislaman di Indonesia. Perdebatan mengenai jumlah rakaat salat Tarawih—apakah 23 rakaat (sering disebut 20 rakaat salat + 3 witir) atau 11 rakaat (8 rakaat salat + 3 witir)—bukan sekadar masalah teknis peribadatan.
Fenomena ini adalah cermin evolusi pemikiran keagamaan dan adaptasi sosial masyarakat Muslim Nusantara.












Komentar