Lalu Jumat datang, menawarkan semacam suaka.
Di trotoar-trotoar Jakarta, di kolong jembatan layang, atau di halaman masjid yang tumpah ruah, kita melihat wajah lain dari hari ini.
Bungkus-bungkus nasi kotak berpindah tangan dari mereka yang berlebih kepada mereka yang lapar. “Jumat Berkah,” kata orang-orang.
Sebuah frasa klise yang sering diobral, namun di dalamnya tetap tersimpan sisa-sisa kemanusiaan yang belum sepenuhnya mati.
-000-
Di tengah individualisme kota besar yang dingin, di mana tetangga sebelah rumah kerap menjadi orang asing, hari Jumat memaksa kita untuk menengok sekeliling.
Bahwa hidup ini, pada akhirnya, bukan sekadar tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi tentang apa yang bisa kita bagi.
Namun, Jumat juga penuh dengan paradoks yang menggelitik. Ia adalah hari suci yang dirayakan di tengah kepulan asap knalpot dan kemacetan yang merayap.
Klakson beradu nyaring di jalan-jalan protokol. Orang-orang bergegas menuju Tuhan dengan wajah cemberut karena terjebak di kemacetan perempatan jalan.
Sebuah ironi yang khas urban: kita ingin mencari ketenangan batin, tetapi harus menebusnya dengan menguras kesabaran di atas aspal yang panas.
Di dalam masjid, ketika khotbah mulai menggema dan ribuan orang duduk bersila tanpa sekat, sejenak atribut-atribut dunia tanggal.
Direktur dan pesuruh duduk berdampingan. Orang kaya dan pengemudi ojek online merapatkan barisan. Di tempat itu, kesunyian kolektif merayap.
Ada doa-doa yang dipanjatkan, ada air mata yang ditahan, ada lelah sepekan yang diletakkan di atas lantai keramik yang dingin.













Komentar