Oleh: M. Guntur Alting
–
MASIH soal ijazah. Biasanya, kalau orang menyebut kata ‘ijazah’, yang terbayang di kepala kita adalah kenangan manis.
Masa-masa wisuda, momen orang tua tersenyum bangga. Atau lembaran kertas kusam yang tersimpan rapi di dalam lemari jati, terbungkus plastik tebal agar tidak dimakan rayap.
Tapi di Negri ini, ijazah bisa jadi barang yang sangat “dramatis.” Lebih dramatis dari sinetron jam tayang utama.
Coba bayangkan.
Sudah berapa tahun isu ijazah Presiden ke-7, Pak Jokowi, ini berputar-putar?
Berapa kali persidangan digelar?
Dari Pengadilan Negeri sampai Komisi Informasi Publik (KIP).
Berapa energi bangsa yang terkuras hanya untuk urusan: ini kertas asli atau bukan?
Anehnya, makin disidangkan:
Makin kabur.
Makin misterius.
Padahal solusinya sangat sederhana, sangat simpel. Kalau memang asli, tunjukkan saja barangnya. Buka lebar-lebar, bawa ke tengah lapangan, tunjukkan ke kamera media.
Selesai.
Publik langsung diam, pengkritik langsung gigit jari.
-000-
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Kampusnya, UGM yang kondang itu, seperti enggan buka-bukaan.
Bareskrim juga sama.









Komentar