Oleh: Gunawan Adji )
Bagian kedua dari: “Mimpi Mobil Nasional vs. Ambisi Ekosistem Nikel Global”
Ketika meresmikan 11 proyek hilirisasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Presiden Prabowo Subianto menegaskan: “Hari ini kita akan meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik. Kemudian kita juga akan meluncurkan 11 proyek hilirisasi, terdiri dari komersialisasi 4 proyek industri dan dimulai pembangunan 7 proyek industri baru.” Nilai investasinya mencapai US$10,2 miliar atau sekitar Rp180 triliun.
Angka tersebut tentu besar. Tetapi yang lebih penting adalah apa yang sedang dibangun di balik Rp180 triliun tersebut. Empat proyek telah memasuki tahap komersialisasi dan tujuh proyek mulai dibangun, mencakup material baterai berbasis nikel, separator baterai EV, elektronik baterai, aluminium, alat berat berbasis listrik hingga photovoltaic glass. Bersamaan dengan itu, Indonesia melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik.
Ini menunjukkan perubahan arah: dari hilirisasi komoditas menuju pembangunan ekosistem industri.
Dari Nikel ke Rantai Nilai
Hilirisasi tahap pertama adalah mengubah bijih menjadi produk bernilai tambah. Tantangan berikutnya adalah memperpanjang rantai nilai di dalam negeri:
Nikel → produk antara → material baterai → baterai → kendaraan listrik → ekspor.
Semakin panjang rantai nilai yang dikuasai Indonesia, semakin besar pula nilai tambah, teknologi, dan kemampuan industri yang dapat tinggal di dalam negeri.
Ekspor perdana baterai EV karena itu memiliki arti lebih besar daripada sekadar ekspor produk baru. Ia menunjukkan bahwa sebagian rantai nilai industri kendaraan listrik mulai terbentuk di Indonesia.
Di sinilah konsep Ekosistem Nikel Global menjadi relevan. Indonesia tidak harus menguasai seluruh industri kendaraan listrik dunia. Yang strategis adalah menguasai titik-titik penting dalam rantai pasok sehingga industri global membutuhkan kapasitas yang dibangun di Indonesia.









Komentar