Mobil Nasional: Merek atau Ekosistem?
Di sinilah tulisan ini kembali kepada pertanyaan dalam artikel sebelumnya: apakah Mobil Nasional harus selalu berarti merek mobil nasional?
Selama ini kita cenderung melihat Mobnas dari ujungnya: merek, desain, dan logo di kap mobil. Padahal, sebuah industri otomotif dibangun dari rantai yang jauh lebih panjang—bahan baku, material, baterai, komponen, teknologi, rekayasa, SDM, manufaktur, pembiayaan hingga pasar ekspor.
Karena itu, Indonesia mungkin tidak harus mengulang seluruh perjalanan dari nol untuk menciptakan Mobnas. Kita dapat membangun fondasinya dari hulu.
Jika nikel Indonesia menjadi material baterai, baterai diproduksi di Indonesia, komponen semakin banyak dibuat di dalam negeri, kendaraan listrik dirakit di Indonesia, teknologi dan SDM berkembang, lalu produk akhirnya diekspor, maka Indonesia sesungguhnya sedang membangun Mobil Nasional dalam pengertian yang lebih strategis—bukan sekadar memiliki merek, tetapi memiliki ekosistem nilai.
Merek asing dapat menjadi kendaraan untuk mencapai tujuan itu. Yang harus dipastikan adalah nilai tambah, teknologi, dan kemampuan industrinya semakin berakar di Indonesia.
Rp180 Triliun dan Ujian GRC
Namun, investasi Rp180 triliun bukanlah akhir. Ukuran keberhasilan hilirisasi tidak boleh berhenti pada nilai investasi, groundbreaking, atau kapasitas produksi.
Pertanyaan yang lebih penting: berapa besar nilai tambah yang benar-benar tinggal di Indonesia?
Berapa investasi yang terealisasi? Berapa TKDN yang benar-benar berasal dari industri nasional? Berapa besar transfer teknologi? Berapa banyak pemasok lokal yang naik kelas? Berapa ekspor dan devisa yang dihasilkan? Dan bagaimana risiko lingkungan, energi, keselamatan serta ketergantungan teknologi dikelola?
Rantai keberhasilannya harus jelas:









Komentar