oleh

HILIRISASI RP 180 TRILIUN: Ekosistem Nikel Global


Investment → Production → Value Added → Technology → Local Supply Chain → Export → National Benefit.

Insentif dan kemudahan investasi harus diikuti governance dan mekanisme pengawasan yang memastikan manfaat tersebut benar-benar terealisasi.

Jangan Hanya Menjadi Negara Nikel

Ada risiko lain. Teknologi baterai berkembang cepat dan tidak seluruhnya bergantung pada nikel. Karena itu, Indonesia jangan terjebak menjadi “negara nikel”, tetapi harus menggunakan keunggulan nikel untuk membangun kemampuan industri yang mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi.

Baca Juga  Jacob Ereste : Koalisi Super Jumbo Sangat Diharap Mewujudkan Rekonsiliasi Peradaban Baru Bagi Bangsa dan Negara Indonesia

Nikel harus menjadi pintu masuk menuju penguasaan material, baterai, elektronika, manufaktur, rekayasa, SDM dan teknologi.

Target akhirnya bukan sekadar “Indonesia memiliki banyak smelter”, tetapi “dunia membutuhkan produk industri yang diproduksi Indonesia.”

Jika itu tercapai, Rp180 triliun bukan sekadar investasi. Ia menjadi fondasi bagi rantai pasok global yang terhubung dengan Indonesia, nilai tambah yang tinggal di Indonesia, dan kemampuan industri nasional yang semakin mandiri.

Baca Juga  Otonomi Daerah, Kearifan Lokal dan Semangat Kemaritiman Kota Pusaka sebagai Poros Utama Menjaga Kebinekaan dan Eksistensi NKRI

Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya: “Kapan Indonesia memiliki Mobil Nasional?”

Pertanyaan yang lebih berani adalah: “Kapan dunia tidak bisa membuat mobil listrik tanpa rantai pasok yang berasal dari Indonesia?”

Jika pertanyaan kedua itu dapat kita jawab, maka Mobil Nasional bukan lagi sekadar mimpi tentang sebuah merek. Ia telah menjadi kenyataan tentang sebuah bangsa yang menguasai ekosistem industrinya.

Baca Juga  AMENDEMEN UUD 1945 DAN LAHIRNYA POLITIK DINASTI: MASALAHNYA BUKAN SEKADAR BAPAK–ANAK, TETAPI DESAIN KONSTITUSI

Surabaya, 0910’26

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *