oleh

JUMAT DALAM TITIAN WAKTU


​Lalu Jumat datang, menawarkan semacam suaka.

​Di trotoar-trotoar Jakarta, di kolong jembatan layang, atau di halaman masjid yang tumpah ruah, kita melihat wajah lain dari hari ini.

Bungkus-bungkus nasi kotak berpindah tangan dari mereka yang berlebih kepada mereka yang lapar. “Jumat Berkah,” kata orang-orang.

Sebuah frasa klise yang sering diobral, namun di dalamnya tetap tersimpan sisa-sisa kemanusiaan yang belum sepenuhnya mati.

Baca Juga  REPUBLIK STRES

-000-

Di tengah individualisme kota besar yang dingin, di mana tetangga sebelah rumah kerap menjadi orang asing, hari Jumat memaksa kita untuk menengok sekeliling.

Bahwa hidup ini, pada akhirnya, bukan sekadar tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tapi tentang apa yang bisa kita bagi.

​Namun, Jumat juga penuh dengan paradoks yang menggelitik. Ia adalah hari suci yang dirayakan di tengah kepulan asap knalpot dan kemacetan yang merayap.

Baca Juga  "Cincin Api Bergetar": 7 Gunung di Indonesia Erupsi di Awal September, PVMBG Imbau Tetap Tenang

Klakson beradu nyaring di jalan-jalan protokol. Orang-orang bergegas menuju Tuhan dengan wajah cemberut karena terjebak di kemacetan perempatan jalan.

Sebuah ironi yang khas urban: kita ingin mencari ketenangan batin, tetapi harus menebusnya dengan menguras kesabaran di atas aspal yang panas.

​Di dalam masjid, ketika khotbah mulai menggema dan ribuan orang duduk bersila tanpa sekat, sejenak atribut-atribut dunia tanggal.

Baca Juga  POLITIK FISKAL PRABOWO-GIBRAN AKANKAH MEMBAWA INDONESIA KE ZONA “BUBBLE ECONOMIC" PASCA PURBAYA ?

Direktur dan pesuruh duduk berdampingan. Orang kaya dan pengemudi ojek online merapatkan barisan. Di tempat itu, kesunyian kolektif merayap.

Ada doa-doa yang dipanjatkan, ada air mata yang ditahan, ada lelah sepekan yang diletakkan di atas lantai keramik yang dingin.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *