Oleh: Usman Sergi/Pimred
Kebijakan reshuffle kabinet Presiden Prabowo Subianto kemarin bukan sekadar bongkar pasang menteri. Ia memberi pesan politik dan moral yang sangat kuat kepada segenap komponen bangsa, baik di pusat maupun di daerah. Reshuffle ini mencerminkan eksistensi Prabowo sebagai Presiden yang sesungguhnya dalam sistem presidensial dan juga cerminan dari keadilan wilayah.
Akhirnya, Prabowo adalah matahari tunggal. Setelah selama lebih dari dua tahun kekuasaan negara dipersepsikan sebagai matahari kembar bersama mantan Presiden Jokowi.
Masih ingat, dengan rasa kecewa yang mendalam, saya pernah menulis artikel bertajuk khusus *”Prabowo dan Hidup Jokowi”* ketika Presiden Prabowo di hajatan Partai Gerindra berteriak lantang “Hidup Jokowi”.
Saat itu saya menulis:
_“Politik nasional sedang menunjukkan wajah anomali dan paradoks. Baru pertama dalam sejarah politik Indonesia, mantan Presiden masih menjadi orang kuat dan memiliki kekuatan bargaining yang dahsyat terhadap Presiden terpilih._
_Kita telah belajar banyak sejak era Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati dan SBY, tidak sedahsyat ini kekuatan pengaruh seorang mantan. Mungkin saja mereka ikhlas melepas jabatan Presiden yang mereka pandang sebagai tugas demokratik bukan bak tahta raja yang harus terus dipertahankan eksistensi substansialnya._
_Para The Founding Fathers bangsa itu bukannya ‘sirik’ lalu menjaga jarak dengan mantan Presiden bahkan berhadap-hadapan, namun mereka ingin menjaga momentum perubahan yang dilahirkan rakyat. Kondisi aktual bangsa ini menuntut Presiden Prabowo bersikap demikian._
_Negara dan bangsa ini sedang dalam situasional degradatif baik ekonomi, hukum dan sosial politik. Warisan hutang telah menggerogoti belanja fiskal, sistem yang oligarki telah melemahkan komitmen kerakyatan, hukum tumpul ke atas namun tajam ke bawah, pelemahan KPK dan MK, keadilan sosial yang menjadi azas bernegara ini mati suri, demikian arus sosial juga menunjukkan aura muram oleh kenaikan harga kebutuhan pokok. Putaran jarum sejarah bangsa ini seolah berputar balik dari cita-cita awal konsensus bernegara Indonesia._
_Lahirnya kepemimpinan bangsa melalui hasil pemilu dan Pilpres 2024 disambut suka cita sebagai momentum perubahan Indonesia yang lebih baik. So! Di tengah kondisi bangsa yang ‘nyungsep’ itu, hadirnya Prabowo Subianto sebagai Presiden RI diproyeksikan rakyat sebagai pemimpin anti-tesa yang diimpikan bisa memutar balik arah jarum sejarah bangsa kembali pada khitohnya sebagai bangsa yang kuat baik ekonomi, sosial, hukum, demokrasi, politik dan pertahanan keamanan. Bangsa yang kembali menjadi tumpuan harapan hidup seluruh anak bangsa bukan sebaliknya #kaburajadulu._












Komentar