oleh

GURUH DAN SWARA YANG TAK PERNAH PADAM


​Di panggung politik bersama PDI Perjuangan, Guruh memilih menjadi penjaga “nyala api.” Ia bukan tipe politisi yang gemar bersilat kata atau berburu tampuk jabatan.

Kehadirannya di parlemen adalah penanda konsistensi: sebuah pengingat bahwa di dalam tubuh pergerakan politik, ruh kebudayaan dan nilai kemanusiaan tidak boleh dilepaskan.

Ia berpolitik dengan keheningan dan kebenigan, tetapi teguh pada garis perjuangan.

Baca Juga  Taubat Amandemen. — Oleh: Muslim Arbi/Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu

-000-

​Kini, “sang maestro” itu telah merampungkan gubahan terakhirnya. Guruh Soekarnoputra pulang menyusul jejak sang ayah dan ibunda, meninggalkan warisan mahakarya yang akan terus bergema.

Kita tidak hanya kehilangan seorang tokoh partai atau anak Sang Proklamator, tetapi seorang penjaga kebudayaan yang pernah membuat Indonesia bangga pada dirinya sendiri.

Guruh memang sudah “perpulang.” Tapi gubahannya, tariannya, dan semangat “Marhaenismenya” akan terus hidup.

Baca Juga  Keberlanjutan Fiskal dari Sri Mulyani, Purbaya Hingga Suahasil Nazara: Menjaga Nadi Ekonomi di Tengah Gejolak Global — Oleh: Dr. Achmad Hatari - Ekonom

Selamat jalan, Mas Guruh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *