Di panggung politik bersama PDI Perjuangan, Guruh memilih menjadi penjaga “nyala api.” Ia bukan tipe politisi yang gemar bersilat kata atau berburu tampuk jabatan.
Kehadirannya di parlemen adalah penanda konsistensi: sebuah pengingat bahwa di dalam tubuh pergerakan politik, ruh kebudayaan dan nilai kemanusiaan tidak boleh dilepaskan.
Ia berpolitik dengan keheningan dan kebenigan, tetapi teguh pada garis perjuangan.
-000-
Kini, “sang maestro” itu telah merampungkan gubahan terakhirnya. Guruh Soekarnoputra pulang menyusul jejak sang ayah dan ibunda, meninggalkan warisan mahakarya yang akan terus bergema.
Kita tidak hanya kehilangan seorang tokoh partai atau anak Sang Proklamator, tetapi seorang penjaga kebudayaan yang pernah membuat Indonesia bangga pada dirinya sendiri.
Guruh memang sudah “perpulang.” Tapi gubahannya, tariannya, dan semangat “Marhaenismenya” akan terus hidup.
Selamat jalan, Mas Guruh.









Komentar