oleh

MENJAHIT RETAKAN BATIN

Oleh: M. Guntur Alting

​Tulisan Denny JA mengenai urgensi Kalender Hijriah Global menyentuh satu titik saraf sensitif dalam sosiologi keberagaman kita: dilema antara otoritas tradisional dan kepastian modern.

Di tahun 2026 ini, ketika kita sudah terbiasa dengan presisi teknologi, perbedaan hari raya bukan lagi sekadar perbedaan metode hisab dan rukyat, melainkan sebuah paradoks sosial yang nyata di depan meja makan keluarga.

Baca Juga  Ketika Klaim Tanpa Sumber Menjadi Senjata — Menguji Etika Pers dalam Pemberitaan Tambang di Maluku Utara

Fragmentasi di Ruang Domestik

​Denny JA secara jeli menggambarkan fenomena “suami NU dan istri Muhammadiyah” atau kisah Akbar di Pamekasan.

Dalam kacamata sosiologi, ini adalah bentuk fragmentasi pengalaman batin. Keluarga, yang seharusnya menjadi unit terkecil pemersatu emosional, justru menjadi tempat pertama di mana “jarak” itu dirasakan.
​Ketika satu anggota keluarga sudah bertakbir sementara yang lain masih menahan lapar, ada simbolisme yang terputus.

Baca Juga  Nuzulul Quran: Algoritma Iqra dalam Menangkal Disrupsi Post-Truth dengan Epistimologi Wahyu.

Kita memang tampak damai secara lahiriah—dan itu adalah prestasi toleransi yang luar biasa di Indonesia—namun secara sosiologis, ada “biaya sosial” berupa hilangnya momentum kolektif yang utuh.

–000–

Ego Organisasi vs. Rasionalitas Global

​Mengapa setelah 1500 tahun kita belum bersepakat?

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *