oleh

MENJAHIT RETAKAN BATIN

Denny JA tepat menyebutkan bahwa masalahnya bukan pada ilmu (science), melainkan pada interpretasi dan otoritas.

​Secara sosiologis, organisasi keagamaan seringkali berfungsi sebagai penjaga identitas kolektif.

Metode (apakah itu rukyat atau hisab) bukan lagi sekadar alat teknis, melainkan simbol kedaulatan organisasi.

Meminjam pemikiran Pierre Bourdieu, di sini terjadi perebutan “modal simbolik”. Mengakui kalender global berarti harus ada otoritas yang bersedia melakukan konsesi, dan seringkali, ego sektoral atau nasional menjadi penghalang utama bagi terciptanya “kesadaran waktu yang serempak”.

Baca Juga  PELUIT YANG MENGIRIS HARAPAN DI GELORA BANDUNG LAUTAN API

–000–

Sains sebagai Jembatan Spiritual

​Rujukan Denny pada karya Zulfiqar Ali Shah dan Mohammad Ilyas menegaskan bahwa infrastruktur ilmiah untuk Kalender Hijriah Global sebenarnya sudah mapan.

Di era Artificial Intelligence ini, menolak kepastian hisab dengan alasan “ketidakmampuan melihat” terasa semakin anakronistis.

​Jika kita bisa memercayai algoritma untuk menentukan rute jalan raya atau memprediksi cuaca, mengapa kita masih ragu menggunakan presisi astronomi untuk menentukan waktu suci?

Baca Juga  Jawa Barat dan Rakyat Kecil Yang Lagi-Lagi Dikorbankan

Esai Denny JA mengajak kita untuk beralih dari pola pikir lokalitas-fisik menuju globalitas-saintifik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *