oleh

IDUl FITRI BERSAMA CAK NUR

Idulfitri, Iran, dan Imajinasi Masyarakat Madani

Oleh : M.Guntur Alting

Daripada bingung dengan jadwal Idul Fitri dari berbagai versi, mendingan kita tulisnya saja “Idul Fitri bersama (versii) Nurcholid Madjid” atau Cak Nur. Simak narasinya :

Idulfitri dalam kacamata Nurcholish Madjid (Cak Nur) adalah momen “kepulangan” massal menuju kesucian asal.

Namun, kepulangan ini bukanlah pelarian dari realitas duniawi, melainkan sebuah pengisian ulang energi spiritual untuk membangun peradaban yang lebih adil.

Baca Juga  Rizal dan Wajah Baru Birokrasi Kota Ternate

Jika kita mengontekstualisasikan pemikiran beliau dengan solidaritas terhadap Iran, kita akan menemukan titik temu yang krusial pada gagasan Masyarakat Madani.

–000–

Tauhid sebagai Fondasi Kemerdekaan Bangsa

Cak Nur sering menegaskan bahwa inti dari Islam adalah al-Hanifiyat al-Samhah–semangat mencari kebenaran yang lapang dan toleran.

Dalam konteks hubungan internasional, prinsip Tauhid yang beliau usung mengandung konsekuensi sosiologis yang berat: “anti-hegemoni.”

Baca Juga  Spiritual Sebagai Benteng Pertahanan Dari Gerusan Jaman Yang Semakin Besar dan Dakhsyat Gelombang Pasang

Solidaritas terhadap Iran di hari yang fitri ini bukanlah dukungan buta terhadap kebijakan politik tertentu, melainkan pengakuan atas hak sebuah bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa didikte oleh kekuatan superpower.

Bagi Cak Nur, mengakui Tuhan sebagai satu-satunya yang Absolut berarti mendelegitimasi segala bentuk absolutisme manusia di muka bumi.

Iran, yang selama puluhan tahun berdiri tegak di tengah sanksi dan tekanan global, menunjukkan daya tahan sebuah bangsa yang digerakkan oleh harga diri dan kemandirian—nilai-nilai yang esensial dalam pembentukan Masyarakat Madani.

Baca Juga  NAKHODA BARU DAN ESTAFET INTELEKTUAL

–000–

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *