Melampaui Sekat Sektarian: Inklusivisme Sunni-Syiah
Salah satu sumbangan terbesar Cak Nur adalah keberaniannya mengusung inklusivisme. Beliau memandang Islam sebagai satu mozaik besar peradaban.
Dalam perspektif ini, perbedaan antara Sunni dan Syiah hanyalah dinamika sejarah dan pemikiran (furu’iyah) yang tidak boleh menghancurkan substansi persaudaraan kemanusiaan.
Idulfitri di Teheran dan Idulfitri di Jakarta memiliki frekuensi spiritual yang sama. Solidaritas kita terhadap Iran adalah manifestasi dari “Islam yang Terbuka”.
Kita tidak bisa mengaku telah kembali ke fitrah jika hati kita masih dikotori oleh prasangka sektarian yang sering kali merupakan warisan konflik politik masa lalu.
Dengan berempati pada perjuangan bangsa Iran, kita sedang mempraktikkan ajaran Cak Nur untuk melihat “titik temu” (kalimatun sawa) di antara sesama umat beriman.
–000–
Solidaritas sebagai Implementasi Kesalehan Sosial
Cak Nur selalu mengkritik “kesalehan ritual” yang egois. Bagi beliau, puasa yang berhasil adalah puasa yang melahirkan kepekaan sosial. Dalam skala global, kepekaan ini mewujud dalam bentuk solidaritas internasional.
Masyarakat Madani yang dicita-citakan Cak Nur adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi hukum, dan memiliki rasa kemanusiaan yang universal.
Solidaritas terhadap Iran—terutama dalam menghadapi ketidakadilan ekonomi akibat isolasi internasional—adalah ujian bagi “Kesalehan Sosial” kita.
Idulfitri mengajarkan bahwa tidak ada kemerdekaan yang sejati selama saudara kita di belahan bumi lain masih terbelenggu oleh ketidakadilan sistemik.
–000–
Epilog : Merajut Peradaban yang Beradab






Komentar